Jumat, 21 November 2014

The Lord Of The Rings #Kembalinya Sang Raja (bab 8)


BAB 8 RUMAH PENYEMBUHAN
Mata Merry dipenuhi kabut air mata dan kelelahan ketika mereka mendekati reruntuhan Gerbang Minas Tirith. Ia hampir tidak memperhatikan puing-puing dan mayat-mayat yang bergelimpangan di mana-mana. Api, asap, dan bau busuk menggantung di udara; sebab banyak alat-alat perang yang dibakar atau dibuang ke dalam api, juga banyak mayat dari mereka yang tewas, sementara di sana-sini menggeletak bangkai-bangkai hewan besar Southron yang mengerikan, setengah terbakar, atau mati kena lemparan batu, atau ditembak matanya oleh pemanah-pemanah berani dari Morthond. Hujan deras sudah reda untuk sementara, dan matahari bersinar di atas; tapi kota bagian bawah masih terselubung asap berbau busuk.
Orang-orang sudah mulai bekerja membuat jalan untuk melewati reruntuhan bekas pertempuran; kini beberapa dari mereka keluar dari Gerbang sambil membawa tandu. Dengan hati-hati mereka meletakkan Eowyn di atas bantal- bantal lembut; tubuh Raja mereka selimuti dengan kain emas besar, dan mereka membawa obor-obor di sekitarnya; nyala api pucat di bawah sinar matahari berkelip ditiup angin.
Begitulah Theoden dan Eowyn datang ke Kota Gondor; semua yang melihat mereka menundukkan kepala dan membungkuk; mereka melewati abu dan asap lingkaran kota yang terbakar, terus mendaki jalan batu. Merry merasa pendakian itu bagai berlangsung berabad-abad lamanya, perjalanan sia-sia dalam mimpi yang tidak menyenangkan, berlangsung terus sampai suatu akhir suram yang tak bisa dicapai oleh ingatan.
Perlahan-lahan cahaya obor-obor di depannya berkelip dan padam, dan Ia
berjalan dalam kegelapan; ia berpikir: “Ini terowongan yang menuju kuburan; di sana kita akan tinggal untuk selamanya.” Tapi tiba-tiba dalam mimpinya terdengar suara orang hidup. la menengadah, dan kabut di depan matanya agak tersingkap. Itu Pippin! Mereka berhadapan muka di sebuah lorong sempit, dan hanya ada merekaberdua di lorong itu. la menyeka matanya. “Di mana Raja?” katanya. “Dan Eowyn?” Lalu Ia tersandung dan duduk di ambang sebuah pintu, lalu mulai menangis lagi. “Mereka sudah naik ke Benteng,” kata Pippin. “Kupikir kau tertidur sambil berjalan, dan mengambil tikungan yang salah. Ketika kami menyadari kau tidak bersama mereka, Gandalf mengirimku untuk mencarimu. Merry yang malang! Aku bahagia sekali melihatmu lagi! Tapi kau tentu kelelahan, dan aku tidak akan mengganggumu dengan omonganku. Tapi katakan padaku, apakah kau terluka, atau cedera?” “Tidak,” kata Merry. “Well, kukira tidak. Tapi aku tak bisa memakai tangan kananku, Pippin, sejak aku menusuknya. Dan pedangku hangus musnah seperti sepotong kayu.” Wajah Pippin kelihatan cemas. “Nah, sebaiknya kau ikut aku secepat mungkin,” katanya. “Seandainya aku bisa menggotongmu. Kau sudah tidak kuat berjalan. Semestinya mereka tidak membiarkanmu berjalan sama sekali; tapi kau harus memaafkan mereka. Begitu banyak kejadian mengerikan yang terjadi di Kota, Merry, sehingga satu hobbit malang yang datang dari pertempuran gampang sekali terabaikan.” “Tidak selalu merugikan kalau tidak diperhatikan,” kata Merry. “Tadi aku tidak diperhatikan oleh ... tidak, tidak, aku tak bisa membicarakannya. Tolong aku, Pippin! Semuanya jadi gelap lagi, dan tanganku dingin sekali.” “Bersandarlah padaku, Merry kawanku!” kata Pippin. “Ayo! Langkah demi langkah. Tidak jauh lagi.” “Apakah kau akan menguburku?” kata Merry. “Oh, bukan, tentu tidak!” kata Pippin, berusaha kedengaran gembira, meski hatinya dipelintir rasa takut dan kasihan. “Tidak, kita akan pergi ke Rumah Penyembuhan.”
Mereka keluar dari lorong yang menjulur di antara rumah-rumah tinggi dan dinding luar lingkar keempat, dan mereka sampai kembali ke jalan utama yang mendaki ke Benteng. Langkah demi langkab mereka berjalan, sambil Merry
terhuyung-huyung dan menggumam seperti orang mengigau dalam tidurnya.
“Aku tak sanggup membawanya ke sana,” pikir Pippin. “Tak adakah yang bisa membantuku? Aku tak bisa meninggalkanya di sisni.” Tepat pada saat itu Ia terkejut melihat seorang anak lelaki datang berlari dari belakangnya, dan saat Ia menyusul, Ia mengenali Bergil, putra Beregond.
“Halo, Bergil!” teriaknya. “Ke mana kau pergi? Senang melihatmu lagi, masih hidup!” “Aku sedang bertugas untuk para Penyembuh,” kata Bergil. “Aku tidak bisa diam di sini.”
“Jangan!” kata Pippin. “Tapi beritahu mereka di atas sana bahwa ada hobbit sakit
di sini bersamaku, seorang perian, camkan itu, yang baru datang dari medan tempur. Kupikir dia tak mampu berjalan sejauh itu. Kalau Mithrandir ada di sana, Ia akan senang menerima pesan itu.” Bergil terus berlari. “Sebaiknya aku menunggu di sini saja,” pikir Pippin. Jadi, ia membiarkan Merry rebah perlahan ke atas ubin batu di tengah seberkas sinar matahari, lalu Ia duduk di sampingnya, dan meletakkan kepala Merry di pangkuannya. la meraba- raba tubuh dan tungkai Merry dengan lembut, dan memegang tangan kawannya. Tangan kanan Merry terasa dingin seperti es.
Tak lama kemudian Gandalf sendiri datang mencari mereka. la membungkuk di atas Merry dan membelai dahinya; lalu diangkatnya Merry dengan hati-hati. “Seharusnya dia dibawa masuk dengan penuh penghormatan ke kota ini,” katanya. “Dia sudah membalas kepercayaanku dengan balk; kalau Elrond tidak menyerah pada saranku, kalian berdua takkan ikut dalam petualangan ini; lalu bencana yang .terjadi hari ini akan jauh lebih pedih.” Ia mengeluh. “Tapi sekarang ada beban lain lagi di tanganku, sementara pertempuran dalam keadaan tak menentu.”
Maka akhirnya Faramir, Eowyn, dan Meriadoc dibaringkan di tempat tidur di Rumah Penyembuhan; di sana mereka dirawat dengan baik. Sebab meski semua pengetahuan di masa kini sudah sangat merosot, tidak sesempurna di masa lampau, tapi ilmu penyembuhan Gondor masih tinggi, dan sangat manjur
dalam menyembuhkan luka dan cedera, serta segala macam penyakit yang sering diderita manusia yang berdiam di wilayah timur Lautan. Kecuali usia tua. Untuk itu mereka tak punya obat; dan memang jangka waktu hidup mereka sekarang sudah menyusut sampai hampir sama dengan manusia lainnya, dan di antara mereka semakin sedikit yang usianya bisa mencapai lima hitungan tahun dengan sehat, kecuali dalam beberapa kelompok keturunan darah murni. Tapi kini seni dan pengetahuan mereka dibingungkan oleh banyaknya penderita penyakit yang tak bisa disembuhkan; mereka menyebutnya kena Bayang-Bayarg Gelap, karena berasal dari para Nazgul. Mereka yang tertimpa penyakit itu lambat laun terbenam mimpi yang semakin dalam, lalu masuk ke dalam suatu kesunyian dan kedinginan mematikan, hingga akhirnya tak tertolong lagi. Mereka yang merawat orang-orang sakit, melihat bahwa penyakit itu menyerang Halfling dan Lady dari Rohan dengan hebat. Namun ketika hari semakin siang, kadang- kadang mereka berbicara, menggumam sambil bermimpi; sang penjaga mendengarkan semua yang mereka katakan, berharap bisa mengetahui sesuatu untuk membantu memahami penyakit mereka. Tapi tak lama kemudian mereka jatuh ke dalam kegelapan, dan ketika matahari beranjak ke barat, bayangan kelabu mulai menutupi wajah mereka. Sementara Faramir masih terbakar oleh demam yang tak mau surut.
Gandalf mengunjungi mereka bergantian dengan penuh perhatian, dan kepadanya para penjaga menceritakan semua yang mereka dengar. Demikianlah hari itu berlalu, sementara pertempuran di luar masih berlangsung dalam harapan silih berganti dan kabar-kabar aneh; Gandalf masih menunggu dan menunggu dan tak juga pergi; sampai akhirnya cahaya matahari merah memenuhi seluruh langit, binarbinarnya masuk melalui jendela, jatuh ke atas wajah kelabu orang-orang sakit. Mereka yang berdiri di dekat si sakit melihat wajah keduanya seolah mulai memerah perlahan, seakan-akan sudah kembali sehat, tapi mereka tertipu harapan palsu.
Lalu seorang wanita tua, Ioreth, wanita paling tua yang bertugas di Rumah Penyembuhan itu, menangis saat memandang wajah elok Faramir, karena semua orang mencintainya. Dan Ia berkata, “Sayang sekali kalau dia mati!
Seandainya ada raja-raja di Gondor, seperti di zaman lampau, begitulah kata orang-orang! Sebab menurut ilmu kuno: Tangan seorang raja adalah tangan penyembuh. Dengan begitu, raja yang berhak bisa dikenali.” Dan Gandalf yang berdiri di dekatnya, berkata, “Kata-katamu itu akan selalu diingat orang, joreth! Karena di dalamnya ada harapan. Mungkin seorang raja memang sudah kembali ke Gondor; atau kau belum mendengar kabar-kabar aneh yang datang ke Kota?”
“Aku sudah terlalu sibuk dengan ini-itu untuk memperhatikan semua teriakan dan seruan,” jawabnya. “Yang kuharapkan hanya agar setan-setan pembantai itu tidak masuk ke Rumah ini dan mengganggu mereka yang sakit.” Lalu Gandalf keluar bergegas, api di langit mulai padam, dan bukit-bukit membara mulai suram, sementara senja kelabu seperti abu merangkak di padang-padang.
Ketika matahari sedang terbenam, Aragorn, Eomer, dan Imrahil mendekati Kota dengan kapten-kapten dan ksatria-ksatria mereka; saat mereka sampai di depan Gerbang, Aragorn berkata, “Lihatlah Matahari terbenam dikelilingi api berkobar! Itu pertanda akhir dan kejatuhan dari banyak perkara, dan perubahan keadaan dunia. Tapi Kota dan wilayah sudah lama berada di bawah tanggung jawab para Pejabat, dan aku khawatir bila aku masuk tanpa dipanggil, keraguan dan perdebatan mungkin timbul; ini tak boleh terjadi sementara perang masih berkecamuk. Aku takkan masuk, atau menuntut hak, sampai sudah jelas apakah kita atau Mordor yang menang. Orang-orang akan memasang kemah-kemahku di atas padang, dan di sinilah aku akan menunggu penyambutan oleh Penguasa Kota.”
Tapi Eomer berkata, “Kau sudah mengibarkan panji para Raja dan lambang- lambang Istana Elendil. Apakah kau tidak keberatan kalau panji dan lambang itu ditentang?” “Tidak,” kata Aragorn. “Tapi menurutku saatnya belum tepat; dan aku tak ingin bertikai, kecuali dengan Musuh dan budak-budaknya.”
Dan Pangeran Imrahil berkata, “Kata-katamu, Lord, sangatlah bijak, kalau aku
sebagai saudara Lord Denethor boleh memberi saran dalam hal ini. Dia punya kemauan keras dan angkuh, tapi dia sudah tua; dan suasana hatinya aneh sekali sejak putranya cedera. Tapi aku tak ingin kau tetap di luar seperti pengemis di depan pintu.”
“Bukan pengemis,” kata Aragorn. “Anggap saja aku ini kapten kaum Penjaga Hutan, yang tidak terbiasa dengan kehidupan di kota dan rumah-rumah batu.” Ia memerintahkan panjinya digulung, lalu ia melepaskan Bintang Kerajaan Utara dan memberikannya pada putra-putra Elrond untuk disimpan.
Lalu Pangeran Imrahil dan Eomer dari Rohan meninggalkannya dan masuk ke Kota melewati kerumunan orang yang hiruk-pikuk, naik ke Benteng; mereka memasuki Balairung di Menara, mencari sang pejabat. Tapi mereka menemukan kursinya kosong, dan di depan panggung berbaring Theoden, Raja dari, Mark, di tempat tidur kehormatan; dua belas obor mengelilinginya, serta dua belas pengawal, ksatria-ksatria dari Rohan dan Gondor. Hiasan hijau dan putih menggantung dari tempat tidur, tapi tubuh Raja tertutup kain emas sampai ke dada, dan di atas kain itu terletak pedangnya yang terhunus, serta perisai di dekat kakinya. Cahaya obor-obor berkilauan di rambut putihnya, seperti cahaya matahari dalam semburan halus air mancur; wajahnya elok dan tampak muda, memancarkan kedamaian yang tak mungkin diraihnya semasa muda; dan Ia kelihatan seperti sedang tidur.
Setelah beberapa saat berdiri diam di samping Raja, Imrahil berkata, “Di mana Pejabat itu? Dan di mana Mithrandir?” Salah satu pengawal menjawab, “Pejabat Gondor ada di Rumah Penyembuhan.” Tapi Eomer berkata, “Di mana Lady Eowyn, adikku; bukankah seharusnya dia berbaring di samping Raja, dengan penghormatan yang setidaknya sama? Di mana mereka membaringkannya?”
Imrahil berkata, “Tapi Lady Eowyn masih hidup ketika mereka membawanya kemari. Tidakkah kau tahu?” Hati Eomer melonjak gembira oleh harapan, yang seketika diikuti kekhawatiran serta ketakutan; Ia tidak berkata apa-apa lagi, melainkan membalikkan badan
dan dengan cepat keluar dari balairung; Pangeran Imrahil mengikutinya. Di luar malam sudah merebak, banyak bintang gemerlap di langit. Gandalf datang berjalan kaki, bersama seseorang berjubah kelabu; mereka bertemu di depan pintu Rumah Penyembuhan. Mereka menyalami Gandalf dan berkata, “Kami mencari sang Pejabat, dan katanya beliau ada di sini. Cederakah dia? Dan Lady Eowyn, di mana dia?”
Gandalf menjawab, “Dia berbaring di dalam dan belum mati, tapi dia sudah
hampir mati. Lord Faramir luka oleh panah beracun, seperti telah kaudengar. Sekarang dialah sang Pejabat, sebab Denethor sudah mati, dan kuburannya sudah hangus menjadi abu.” Mereka pun sedih dan heran mendengar cerita itu. Tapi Imrahil berkata, “Jadi, kemenangan ini sudah kehilangan kegembiraannya, dan sudah dibeli dengan mahal, kalau Gondor maupur, Rohan di hari yang sama kehilangan penguasa mereka. Eomer memimpin kaum Rohirrim. Siapa yang akan memimpin Kota sementara ini? Tidakkah sebaiknya kita sekarang memanggil Lord Aragorn?”
Orang berjubah itu berbicara dan katanya, “Dia sudah datang.” Dan ketika ia
maju ke bawah cahaya lentera dekat pintu, mereka melihat bahwa dialah Aragorn, berpakaian jubah kelabu Lorien di atas baju besinya, dan hanya memakai lambang batu, hijau dart Galadriel. “Aku datang karena Gandalf memintaku,” katanya. “Tapi untuk sementara aku hanya Kapten kaum Dunedain dari Arnor; penguasa Dol Amroth akan memerintah Kota sampai Faramir bangun. Tapi kusarankan sebaiknya Gandalf yang memimpin kita semua di hari- hari mendatang dan dalam pertikaian kita dengan Musuh.” Mereka semua setuju. Lalu Gandalf berkata, “Janganlah kita tetap di depan pintu ini, karena waktu sangat mendesak. mari kita masuk! Sebab hanya kedatangan Aragorn yang bisa membawa harapan bagi mereka yang sakit di dalam Rumah Penyembuhan. Begitulah kata loreth, wanita bijak dari Gondor: Tangan seorang raja adalah tangan penyembuh, dan dengan demikian raja yang asli bisa dikenali. “
Aragorn masuk lebih dulu, yang lain mengikuti. Di pintu ada dua pengawal berpakaian seragam Benteng: satu jangkung, tapi satunya lagi hampir tidak lebih
tinggi daripada anak lelaki kecil; ketika melihat mereka, Ia berteriak keras karena kaget dan gembira. “Strider! Hebat! Aku sudah menduga kaulah yang berada di kapal-kapal hitam itu. Tapi mereka semua berteriak corsair dan tak mau mendengarkan aku. Bagaimana kau melakukannya?”
Aragorn tertawa dan memegang tangan hobbit itu. “Selamat bertemu kembali!” katanya. “Tapi belum ada waktu untuk kisah-kisah perjalanan.” Lalu Imrahil berkata pada Eomer, “Begitukah caranya kita berbicara dengan raja- raja? Tapi mungkin dia akan memakai mahkotanya dengan menggunakan nama lain!”
Aragorn yang mendengar perkataannya, berputar dan berkata, “Benar, sebab
dalam bahasa klasik kuno aku adalah Elessar, Permata Peri, dan Envinyatar,
sang Pembaru”; ia mengangkat batu hijau di dadanya. “Tapi Strider akan
menjadi nama keluargaku, kalau suatu saat nanti terbentuk. Dalam bahasa klasik nama itu tidak terdengar jelek, dan terlontar akan menjadi julukanku serta semua pewaris keturunanku.” Lalu mereka masuk ke Rumah Penyembuhan; sambil melangkah ke ruang tempat kaum sakit dirawat, Gandalf menceritakan tindakan Eowyn dan Meriadoc. “Sebab aku mendampingi mereka lama sekali,” katanya, “mula-mula mereka banyak berbicara sambil mimpi, sebelum tenggelam ke dalam kegelapan kelam. Aku juga bisa melihat kejadian-kejadian yang jauh.”
Mula-mula Aragorn mendekati Faramir, kemudian Lady Eowyn, dan terakhir Merry. Setelah melihat wajah-wajah mereka dan mengamati cedera masing- masing, Ia mengembuskan napas panjang. “Aku harus mengerahkan seluruh kekuatan dan kemahiran yang sudah diberikan padaku,” katanya. “Aku ingin sekali Elrond ada di sini, karena dia yang tertua dan seluruh ras kami, dan mempunyai kekuatan terbesar.”
Eomer, yang melihat Aragorn sangat sedih dan letih, berkata, “Kau harus istirahat dulu, dan setidaknya makan dulu sedikit?” Tapi Aragorn menjawab, “Tidak, untuk mereka bertiga, dan paling cepat untuk Faramir, waktu sudah mulai habis. Perlu bertindak cepat.”
Lalu ia memanggil loreth dan berkata, “Kau punya simpanan tanaman obat di sini?” “Ya, Tuan,” jawabnya, “tapi kukira tidak cukup untuk semua yang membutuhkannya. Aku tidak tahu di mana kita bisa menemukan lebih banyak; semuanya kacau di masa sulit ini, akibat kebakaran-kebakaran. Hanya sedikit anak-anak yang bisa disuruh ke sana kemari, dan semua jalan ditutup. Sudah berhari-hari sejak kurir terakhir dari Lossarnach datang ke pasar! Tapi kami berusaha memanfaatkan sebaik mungkin apa yang ada di Rumah ini, dan aku yakin Tuanku tahu itu.”
“Aku akan menilai hal itu kalau aku sudah melihatnya,” kata Aragorn. “Satu hal lagi, tak banyak waktu untuk berbicara. Kau punya athelas?” “Aku tidak tahu, Tuanku,” jawabnya, “setidaknya tidak dengan nama itu. Aku akan pergi menanyakannya pada ahli obat-obatan; dia tahu semua nama lama.” “Tanaman itu juga disebut kingsfoil,” kata Aragorn; “mungkin kau mengenalnya dengan nama itu, karena begitulah penduduk desa menyebutnya belakangan ini.”
“Oh, itu!” kata Ioreth. “Kalau Tuanku mengatakannya sejak awal, aku bisa memberitahu. Tidak, kami tidak punya itu, aku yakin. Wah, aku belum pernah dengar bahwa tanaman itu punya khasiat bagus; bahkan aku sering berkata pada saudara-saudaraku ketika kami menemukannya di hutan. 'Kingsfoil,' kataku, 'itu nama aneh, dan aku heran mengapa disebut begitu; kalau aku jadi raja, aku ingin tanaman yang lebih cerah di kebunku.' Tapi memang baunya wangi kalau diremas, bukankah begitu? Kalau wangi adalah istilah yang tepat: . mungkin kata sehat lebih tepat.”
“Memang menyehatkan,” kata Aragorn. “Dan sekarang, Nyonya, kalau kau
menyayangi Lord Faramir, larilah secepat lidahmu berbicara dan ambilkan
kingsfoil untukku, kalau masih ada daun itu di Kota.” “Dan kalau tidak ada,” kata Gandalf, “aku akan berkuda ke Lossamach dengan loreth di belakangku. Dia akan membawaku ke hutan, tapi tidak ke saudara- saudaranya. Shadowfax akan menunjukkan kecepatannya berlari.”
Setelah loreth pergi, Aragorn meminta wanita-wanita lainnya memanaskan air. Lalu ia memegang tangan Faramir, dan dengan tangan satunya ia menyentuh dahi si sakit. Dahi Faramir basah oleh keringat, tapi Faramir sama sekali tidak bergerak atau memberi isyarat, dan kelihatannya hampir tidak bernapas. “Keadaannya sudah gawat sekali,” kata Aragorn pada Gandalf.
“Tapi ini bukan karena lukanya. Lihat! Lukanya sudah mulai sembuh.
Seandainya dia kena panah Nazgul, seperti kauduga, dia pasti sudah mati malam itu. Luka ini disebabkan panah Southron, kurasa. Siapa yang mencabutnya? Apakah panahnya disimpan?” “Aku yang mencabutnya,” kata Imrahil, “dan membebat lukanya. Tapi aku tidak menyimpan panah itu, sebab banyak yang harus kami lakukan ketika itu. Panahnya seingatku seperti yang dipakai kaum Southron. Tapi aku menduga datangnya dari Bayang-Bayang di atas, sebab bila tidak, tak mungkin dia demam dan sakit seperti ini, sebab lukanya tidak dalam atau mematikan. Menurutmu apa penyebab sebenamya?”
“Keletihan, kesedihan karena sikap ayahnya, luka, dan terutama ... Napas Hitam,” kata Aragorn. “Dia berhati teguh, sebab dia sudah pernah mendekati Bayang-Bayang itu sebelum pergi bertempur di tembok perbatasan. Pasti lambat laun kegelapan menyergapnya, saat dia bertempur dang berjuang untuk mempertahankan pos luarnya. Ah, seandainya aku datang lebih awal!”
Lalu ahli obat-obatan masuk. “Tuanku menanyakan kingsfoil, seperti orang-orang dusun menamainya,” katanya; “atau athelas dalam bahasa tinggi, atau bagi mereka yang tahu sedikit tentang Valinorean ...” “Aku tahu,” kata Aragorn, “dan aku tak peduli apakah kau mengatakan asea aranion atau kingsfoil, asal kau punya beberapa.”
“Maaf, Tuanku!” kata pria itu. “Ternyata kau juga seorang ilmuwan, bukan hanya
kapten perang. Tapi sayang sekali, Sir! Kami tidak menyimpan benda ini di Rumah Penyembuhan, di mana hanya mereka yang terluka parah atau sakit gawat yang dirawat. Sebab setahu kami kingsfoil tidak mempunyai khasiat, kecuali mungkin untuk menyegarkan udara pengap, atau mengusir rasa berat
menekan. Kecuali kalau kau mempercayai sajak-sajak zaman lampau yang diucapkan wanita-wanita kami seperti loreth, tanpa mengerti maknanya.
Ketika napas hitam mengentak dan bayang-bayang kematian merebak dan semua cahaya padam tanpa bekas, datanglah athelas! datanglah athelas! Kehidupan bagi yang sekarat Di tangan raja ia terdapat!
Kupikir itu hanya sajak tak bermutu, yang sudah terbalik-balik dalam ingatan para wanita tua. Maknanya terserah penilaianmu, kalau memang ada artinya. Tapi orang-orang tua masih menggunakan ramuannya untuk meringankan sakit kepala.”
“Kalau begitu, atas nama Raja, pergi dan cari orang tua yang pengetahuan ilmunya kurang, tapi kebijakannya lebih besar, yang masih menyimpan tanaman ini di rumahnya!” seru Gandalf.
Sekarang Aragorn berlutut di samping Faramir, dan meletakkan tangan di dahinya. Mereka yang memperhatikan, merasa sebuah perjuangan besar sedang berlangsung. Wajah Aragorn menjadi kelabu karena keletihan; sesekali Ia memanggil nama Faramir, tapi makin lama suaranya makin redup, seolah-olah Aragorn sendiri menjauh dari mereka, dan berjalan jauh di suatu lembah gelap, memanggil-manggil seseorang yang hilang.
Akhirnya Bergil datang berlari, membawa enam helai daun dibungkus kain. “Ini kingsfoil, Sir,” katanya, “tapi tidak segar. Paling tidak sudah dua minggu yang lalu dipetik. Kuharap masih bisa dimanfaatkan, Sir?” Ketika melihat Faramir, air matanya menetes deras tak terbendung.
Tapi Aragorn tersenyum. “Masih bisa dimanfaatkan,” katanya. “Keadaan yang paling gawat sudah lewat. Tetaplah di sini dan rasakan kenyamanan!” Aragorn mengambil dua lembar daun, meletakkannya di tangannya, dan mengembuskan
napas di atasnya, lalu meremasnya. Seketika suatu kesegaran yang hidup memenuhi ruangan, seakan-akan udara bangun bergetar, penuh percik kegembiraan. Aragorn memasukkan daun-daun itu ke dalam mangkuk berisi air panas, dan semua langsung merasa gembira. Keharuman yang menyebar dan daun itu. Berbagai kenangan pada pagi berembun di bawah sinar matahari yang tidak terselubung, di suatu negeri yang melebihi keindahan dunia di Musim Semi. Aragorn tampak segar kembali, matanya tersenyum ketika ia memegang mangkuk itu di depan wajah Faramir yang masih bermimpi.
“Wah! Siapa sangka?” kata Ioreth pada wanita yang berdiri di sampingnya. “Tanaman itu lebih hebat daripada yang kusangka. Mengingatkan aku pada mawar-mawar Imloth Melui ketika aku masih gadis remaja. Tak ada yang lebih bagus yang bisa diminta seorang raja.”
Tiba-tiba Faramir bergerak dan membuka mata. la memandang Aragorn yang membungkuk di atasnya; sorot mengenali dan kasih sayang terpancar dari dalam matanya, dan ia berbicara perlahan. “Tuanku, kau memanggilku. Aku datang. Apa yang kauperintahkan, Raja?”
“Jangan lagi berjalan dalam kegelapan, tapi bangunlah!” kata Aragorn. “Kau letih. Istirahatlah dulu, dan makanlah. Bila aku kembali, kau harus sudah siap.” “Akan kulakukan, Tuanku,” kata Faramir. “Siapa yang mau berbaring dan menganggur bila Raja sudah kembali?”
“Selamat berpisah untuk sementara!” kata Aragorn. “Aku harus pergi ke yang lain, yang membutuhkan aku.” Ia meninggalkan ruangan itu bersama Gandalf dan Imrahil; tapi Beregond dan putranya tetap di sana, dengan kegembiraan meluap-luap. Saat mengikuti Gandalf dan menutup pintu, Pippin mendengar loreth berseru,
“Raja! Kaudengar itu? Apa kataku? Tangan seorang penyembuh, kataku.”
Segera tersiar keluar dari Rumah Penyembuhan, bahwa Raja sudah datang di antara mereka, membawa penyembuhan setelah perang; dan kabar itu pun menyebar ke seluruh Kota.
Lalu Aragorn mendatangi Eowyn, dan berkata, “Dia mengalami cedera
menyedihkan dan pukulan berat. Lengan yang patah sudah dirawat dan akan sembuh pada waktunya, kalau dia bisa bertahan hidup. Lengan perisailah yang sudah dilumpuhkan; tapi bencana terberat menimpa lengan pedang. Sekarang lengan itu sama sekali tidak kelihatan hidup, meski tidak patah.”
“Sayang sekali! Dia menentang musuh yang melebihi kekuatan Pikiran atau tubuhnya. Dan mereka yang mengangkat senjata terhadap musuh semacam itu harus lebih kokoh daripada baja, kalau tidak benturan itu akan menghancurkan mereka. Malapetaka besar telab menempatkannya di jalan musuh. Karena dia gadis cantik, tercantik dari keturunan ratu-ratu. Entah apa harus kukatakan tentang dia. Ketika aku pertama kali melihatnya dan menyadari kesedihannya, rasanya dia seperti sekuntum bunga putih yang berdiri tegak dan angkuh, indah seperti bunga lili, tapi keras seperti ditempa dari baja oleh pandai besi Peri. Atau terkena embun beku yang berubab menjadi es, dan demikianlah dia berdiri, pahit-manis, masih indah dipandang, tapi sudah terpukul, dan segera akan jatuh dan mati? Penyakitnya sebenarnya berawal jauh sebelum ini, bukankah begitu, Eomer?”
“Aku heran kau menanyakan itu padaku, Tuan,” jawab Eomer. “Sebab dalam hal
ini aku tidak menyalahkanmu, seperti juga dalam semua hal lain; tapi aku tidak tahu apakah adikku Eowyn, sudah tersentuh embun beku, sampai pertama kali dia memandangmu. Dia mengalami kesedihan dan kengerian yang dibaginya bersamaku di masa Wormtongue masih menancapkan pengaruhnya pada Raja; dan dia merawat Raja dengan rasa takut yang semakin besar. Tapi bukan itu yang membawanya pada keadaan ini!”
“Sahabatku,” kata Gandalf, “kau mempunyai kuda-kuda, kau bisa bertarung mengangkat senjata, dan keluar ke padang-padang bebas; tapi dia, yang lahir dalam tubuh seorang wanita, mempunyai semangat dan keberanian setidaknya sama besar denganmu. Namun dia ditakdirkan menunggui seorang pria tua yang disayanginya seperti seorang ayah, dan dia melihat pria itu jatuh ke dalam usia lanjut dalam keadaan menyedihkan; dia merasa perannya sangat hina, lebih hina daripada tongkat yang dipakai Raja untuk penopang.”
“Apa kaukira Wormtongue hanya menyebarkan racun untuk telinga Theoden?
Tua bangka! Istana Eorl tak lebih dari sebuah gubuk beratap jerami di mana para perampok minum di tengah bau busuk, dan anak-anak mereka berguling-guling di lantai, di tengah-tengah anjing-anjing. Apa kau tak pernah mendengar kata- kata itu? Saruman yang mengucapkannya, guru Wormtongue. Meski aku tak ragu bahwa di rumahmu Wormtongue. membungkus makna itu dalam kata-kata yang lebih cerdik. Tuanku, seandainya cinta kasih adikmu terhadapmu, dan kepatuhannya terhadap tugas, tidak menahan bibirnya, mungkin kau juga akan mendengar ucapan semacam itu keluar dari mulutnya. Tapi siapa yang tahu apa yang dikatakannya pada kegelapan, saat dia sedang sendirian, dalam penantian getir di malam hari, ketika seluruh hidupnya terasa menyusut dan dinding-dinding kamar mengepungnya seperti kandang untuk mengungkung binatang liar?” Eomer terdiam dan menatap adiknya, seakan merenungi kembali seluruh masa lampau hidup mereka bersama. Tapi Aragorn berkata, “Aku juga melihat apa yang kaulihat, Eomer. Di antara begini banyak kesedihan serta keburukan- keburukan dunia ini, tak ada yang lebih pahit dan memalukan bagi hati seorang pria, daripada menyaksikan cinta seorang wanita yang begitu cantik dan berani, yang tak bisa dibalasnya. Kesedihan dan rasa iba meliputiku sejak aku rneninggalkannya dalam keputusasaan di Dunharrow,. saat aku pergi ke Jalan Orang-Orang Mati; Kami takut membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya. Tapi, Eomer, rasa sayangnya padamu lebih murni daripada cintanya padaku; sebab dia mengenalmu sepenuhnya; sementara cintanya padaku hanya berupa bayang-bayang dan angan-angan: harapan akan kegemilangan dan perbuatan-perbuatan hebat, serta negeri-negeri yang jauh dari padang-padang Rohan.”
“Mungkin aku punya kekuatan untuk menyembuhkan tubuhnya, dan
memanggilnya keluar dari lembah gelap. Tapi apa yang akan ditemukannya setelah dia terjaga: harapan, atau kealpaan, atau keputusasaan, aku tidak tahu. Dan kalau keputusasaan yang ditemukannya; maka dia akan mati, kecuali ada penyembuhan lain yang tak bisa kuberikan. Oooh! Tindakannya telah menempatkan dirinya setara dengan para ratu termasyhur.”
Lalu Aragorn membungkuk dan menatap wajah Eowyn, dan memang wajahnya
putih pucat seperti bunga lili; dingin seperti embun beku, dan keras seperti patung batu. Aragorn membungkuk dan mengecup keningnya, memanggilnya dengan lembut, “Eowyn putri Eomund, bangunlah! Sebab musuhmu sudah mati!”
Eowyn tak bergerak, tapi kini mulai bernapas lagi, sehingga dadanya naik-turun di bawah seprai putih. Sekali lagi Aragorn meremas dua lembar daun athelas dan melemparkannya ke dalam air mendidih; Ia mengusap kening Eowyn dengan air itu, juga lengan kanannya yang terbaring dingin dan beku di atas selimut.
Lalu, entah karena Aragorn memang mempunyai kekuatan Westernesse yang sudah terlupakan, atau karena kata-katanya tentang Lady Eowyn merasuki diri mereka, ketika pengaruh dedaunan itu menyebar di dalam ruangan tersebut, mereka yang berdiri di sana merasa seolah-olah ada angin tajam bertiup melalui jendela, tidak mengantar bau wangi, tapi merupakan udara segar, bersih, dan mumi, seakan-akan belum pernah dihirup makhluk hidup dan baru saja datang dari pegunungan bersalju tinggi di bawah kubah berbintang, atau dari pantai- pantai perak nun jauh di sana, yang disapu oleh lautan berbuih.
“Bangun, Eowyn, Lady dari Rohan!” kata Aragorn lagi; Ia mengambil tangan kanan gadis itu dan merasakan kehangatan kembali mengalir di dalamnya. “Bangun! Bayang-Bayang itu sudah pergi, dan seluruh kegelapan sudah dibasuh bersih!” Lalu ia meletakkan tangan Eowyn di tangan Eomer dan, melangkah mundur. “Panggillah dia!” katanya, dan Ia keluar diam-diam dari kamar itu. “Eowyn, Eowyn!” seru Eomer sambil menangis. Eowyn membuka matanya dan berkata, “Eomer! Aku sangat bahagia! Mereka bilang kau sudah tewas. Oh ... bukan, itu hanya suara-suara gelap dalam mimpiku. Sudah berapa lama aku bermimpi?”
“Tidak lama, adikku,” kata Eomer. “Tapi jangan kaupikirkan lagi!” “Aku merasa lelah sekali,” kata Eowyn. “Aku perlu istirahat dulu. Tapi bagaimana dengan Penguasa Mark? Aduh! Jangan katakan itu hanya mimpi; sebab aku tahu itu bukan mimpi. Dia sudah mati, seperti telah diramalkannya sendiri.” “Dia sudah mati,” kata Eomer, “tapi dia berpesan padaku untuk mengirim salam
pamit kepada Eowyn, yang disayanginya melebihi anak sendiri. Sekarang dia
dibaringkan dengan penghormatan penuh di Benteng Gondor.” “Menyedihkan sekali,” kata Eowyn. “Tapi itu lebih baik daripada yang berani kuharapkan di masa gelap, ketika rasanya kehormatan Istana Eorl sudah jatuh begitu rendah, lebih rendah daripada tempat tidur seorang gembala. Dan bagaimana dengan pendamping Raja, si Halfling? Eomer, kau harus mengukuhkannya sebagai ksatria dari Riddermark, karena dia begitu gagah berani!” “Dia berbaring tak jauh dari sini, di Rumah Penyembuhan ini juga, dan aku akan pergi menemuinya,” kata Gandalf “Eomer akan tetap di sini untuk beberapa saat. Tapi janganlah membicarakan perang atau kesedihan, sampai kau sembuh benar. Sangat membahagiakan melihatmu bangun lagi menyongsong kesehatan dan harapan, wanita yang begitu gagah berani!” “Kesehatan?” kata Eowyn. ““Mudah-mudahan begitu. Setidaknya selama masih ada pelana kosong milik seorang penunggang yang bisa kuisi, dan banyak tugas yang bisa kulakukan. Tapi harapan? Aku belum tahu.”
Gandalf dan Pippin masuk ke kamar Merry. Di sana mereka menemukan
Aragorn berdiri di samping tempat tidur. “Merry yang malang!” teriak Pippin, dan
Ia berlari ke samping tempat tidur, karena Ia melihat temannya itu tampak lebih gawat dan wajahnya kelabu, seolah-olah beban duka bertahun-tahun menekannya; tiba-tiba Pippin ketakutan bahwa Merry akan mati. “Jangan cemas,” kata Aragorn. “Aku datang tepat pada waktunya, dan aku sudah memanggilnya kembali. Dia letih sekali sekarang, dan sedih, dan dia menderita cedera seperti Lady Eowyn, karena dia sudah berani melukai makhluk berbahaya itu. Tapi cedera seperti ini bisa disembuhkan, dia punya semangat kuat dan hati yang ceria. Dia tidak akan melupakan kesedihannya; tapi itu tidak akan membuat hatinya dirundung kegelapan, justru akan mengajarinya kebijaksanaan.”
Lalu Aragorn meletakkan tangannya ke atas kepala Merry, dan sambil mengusap rambut keritingnya dengan lembut, ia menyentuh kelopak mata Merry dan
memanggil namanya. Saat keharuman athelas menyebar di ruangan itu, seperti keharuman kebun buah-buahan dan semak heather di bawah sinar matahari penuh kumbang, mendadak Merry bangun dan berkata, “Aku lapar. Jam berapa sekarang?”
“Sudah lewat waktu makan malam sekarang,” kata Pippin, “tapi aku yakin bisa membawakanmu makanan, kalau mereka mengizinkan.” “Mereka akan mengizinkanmu,” kata Gandalf. “Dan apa pun yang dikehendaki Penunggang dari Rohan ini, yang bisa ditemukan di Minas Tirith, di mana namanya sangat dihormati.”
“Bagus!” kata Merry. “Kalau begitu aku ingin makan malam dulu, setelah itu aku mau mengisap pipa.” Tapi wajahnya merengut. “Tidak, jangan pipa. Rasanya aku tidak akan pernah mengisap pipa lagi.” “Mengapa tidak?” kata Pippin.
“Well,” jawab Merry perlahan. “Dia sudah mail. Pipa itu membuatku teringat semuanya. Dia bilang dia menyesal belum. sempat membicarakan ilmu tanaman denganku. Itulah di antaranya kata-kata terakhir yang dia ucapkan. Aku takkan pernah bisa merokok lagi tanpa memikirkan dia, dan hari itu, Pippin, ketika datang ke Isengard, dia bersikap begitu sopan.”
“Merokok sajalah dan ingatlah dia!” kata Aragorn. “Sebab dia berhati lembut dan
raja yang hebat; dia memenuhi sumpahnya, dan dia naik dari dalam bayangan gelap ke suatu pagi indah terakhir. Meski layananmu kepadanya singkat saja, tapi akan menjadi kenangan bahagia dan terhormat sampai akhir hayatmu.” Merry tersenyum. “Nah,” katanya, “kalau Strider menyediakan apa yang dibutuhkan, aku akan merokok dan berpikir. Aku bawa sedikit tembakau terbaik milik Saruman di ranselku, tapi apa yang terjadi dengannya di tengah pertempuran, aku tidak tahu.”
“Master Meriadoc,” kata Aragorn, “kalau kaupikir aku melintasi pegunungan dan
wilayah Gondor dengan api dan pedang hanya untuk membawakan tanaman bagi seorang serdadu yang lalai, yang membuang perlengkapannya, maka kau keliru. Kalau ranselmu tidak ditemukan, kau harus memanggil ahli obat Rumah ini. Dan dia akan menceritakan kepadamu bahwa dia tidak tahu tanaman yang
kau cari mempunyai khasiat, tapi bahwa tanaman itu disebut westmansweed oleh orang-orang kasar, dan galenas oleh kaum bangsawan, dan nama-nama lain dalam bahasa-bahasa yang lebih terpelajar, dan setelah menambahkan beberapa sajak yang sepanih terlupakan, yang tidak dia mengerti, dengan menyesal dia akan memberitahumu bahwa tanaman itu sama sekali tidak ada di Rumah ini, dan dia akan membiarkanmu merenungi sejarah bahasa-bahasa. Itulah yang harus kulakukan sekarang. Sebab aku belum tidur di tempat tidur seperti ini. sejak aku pergi dari Dunharrow, juga belum makan sejak menjelang fajar.”
Merry meraih tangan Aragorn dan mengecupnya. “Aku sangat menyesal,” katanya. “Pergilah segera! Sejak malam di Bree itu kami sudah menjadi beban bagimu. Tapi memang sudah watak bangsaku untuk berbicara dengan enteng seperti itu, padahal bukan maksud kami menyinggung perasaan. Kami takut bicara terlalu banyak. Karena kami jadi kehilangan kata-kata yang tepat bila suatu kelakar tidak pada tempatnya.”
“Aku tahu betul hal itu, kalau tidak aku tidak akan bicara denganmu dengan cara yang sama,” kata Aragorn. “Semoga Shire hidup selamanya dan tak pernah layu!” Sambil mencium Merry Ia pergi keluar, dan Gandalf pergi bersamanya.
Pippin masih tinggal di sana. “Pernah adakah orang seperti dia?” katanya. “Kecuali Gandalf, tentu. Bodohku yang kusayangi, ranselmu ada di samping tempat tidurmu, dan kau menyandangnya di punggungmu ketika aku bertemu denganmu. Pasti Strider sudah melihatnya selama berbicara denganmu. Selain itu, aku punya sedikit tembakau. Ayolah! Jenisnya Longbottom Leaf. Nikmatilah sambil aku mencari makanan. Lalu mari kita santai sejenak. Wah, wah! Kita kaum Took dan Brandybuck, kita tak bisa hidup lama di antara para petinggi.” “Tidak,” kata Merry. “Aku tak bisa. Setidaknya belum. Tapi setidaknya, Pippin, kita sekarang bisa melihat dan menghormati mereka. Sebaiknya memang mencintai apa yang pantas kita cintai: kita harus mulai di suatu tempat dan mempunyai akar, dan tanah Shire cukup dalam. Bagaimanapun, ada hal-hal yang lebih dalam dan tinggi; dan tak ada orang tua yang bisa merawat kebunnya
dengan tenang dan damai kalau bukan karena mereka, meski dia tahu atau tidak tentang mereka. Aku senang tahu sedikit tentang mereka. Tapi aku tidak tahu mengapa aku berbicara seperti ini. Di mana daunnya? Dan keluarkan pipaku dari ranselku, kalau belum patah.”
Aragorn dan Gandalf sekarang pergi ke Pengawas Rumah Penyembuhan, memberitahukan bahwa Faramir dan Eowyn harus tetap di sana dan masih harus dirawat dengan penuh perhatian untuk beberapa hari. “Lady Eowyn,” kata Aragorn, “pasti ingin segera bangun dan pergi; tapi jangan izinkan dulu, kalau kau bisa menahannya dengan cara apa pun, sampai sekurang-kurangnya sepuluh hari.”
“Kalau Faramir,” kata Gandalf, “dia harus segera tahu bahwa ayahnya sudah
mati. Tapi cerita selengkapnya tentang kegilaan Denethor jangan disampaikan dulu, sampai dia sudah sembuh dan harus bertugas. Jagalah agar Beregond dan perian yang berada bersamanya tidak membahas dulu hal-hal itu dengannya!” “Dan perian satunya, Meriadoc, yang ada dalam perawatanku, bagaimana dengan dia?” kata Pengawas.
“Mungkin besok pagi dia sudah cukup sehat untuk bangun sejenak,” kata Aragorn. “Biarkan dia bangun, kalau dia menghendakinya. Dia boleh berjalan- jalan sedikit, sambil diawasi teman-temannya.” “Mereka bangsa yang hebat,” kata Pengawas, sambil menganggukkan kepala. “Sangat kuat otot-ototnya.”
Di dekat pintu Rumah Penyembuhan sudah banyak orang berkerumun untuk melihat Aragorn, dan mereka mengikutinya ketika akhirnya ia makan malam, orang-orang berdatangan dan memohonnya untuk menyembuhkan saudara- saudara atau teman-teman mereka yang hidupnya terancam bahaya, karena terluka atau cedera, atau yang berada di bawah pengaruh Bayang-Bayang Hitam. Aragorn bangkit dan keluar, memanggil putra-putra Elrond, dan bersama- sama mereka bekerja keras sampai larut malam. Dan kabar yang menyebar di Kota, “Raja memang sudah datang.” Mereka menamakannya Elfstone, Permata
Peri, karena batu hijau yang dipakainya; dengan demikian, nama yang pada saat kelahirannya sudah diramalkan akan disandangnya, dipilih oleh rakyatnya sendiri. Ketika sudah tak kuat lagi bekerja, Aragorn menutupi diri dengan jubahnya, dan menyelinap keluar dari kota, pergi ke kemahnya persis sebelum fajar, dan tidur sejenak. Pagi harinya papji Dol Amroth, kapal putih seperti bangsa di atas air biru, berkibar dari atas Menara. Orang-orang melihat ke atas dan bertanya-tanya apakah kedatangan Raja bukan hanya mimpi.

The Lord Of The Rings #Kembalinya Sang Raja (bab 7)


BAB 7 API DENETHOR
Ketika bayangan gelap di Gerbang sudah pergi, Gandalf masih duduk tak bergerak. Tapi Pippin bangkit berdiri, seakan-akan sebuah beban berat sudah diangkat dari pundaknya; Ia berdiri sambil mendengarkan bunyi terompet, dan hatinya serasa akan pecah oleh kegembiraan mendengar bunyi itu. Hingga bertahun-tahun sesudahnya Ia selalu merasa terharu jika mendengar bunyi terompet di kejauhan. Tapi kini tiba-tiba Ia teringat kembali akan tugasnya, dan ia berlari maju. Saat itu Gandalf bergerak dan berbicara pada Shadowfax, dan sudah akan pergi keluar Gerbang.
“Gandalf, Gandalf!” teriak Pippin, dan Shadowfax berhenti. “Apa yang kaulakukan di sini?” kata Gandalf “Bukankah peraturan di Kota ini, mereka yang mengenakan seragam hitam dan perak harus tetap di Benteng, kecuali kalau penguasa mereka memberi izin?” “Dia sudah memberiku izin,” kata Pippin. “Dia menyuruhku pergi. Tapi aku cemas. Sesuatu yang mengerikan mungkin terjadi di sana. Kurasa Lord Denethor sudah tidak waras. Aku khawatir dia akan bunuh diri, juga membunuh Faramir. Tak bisakah kau melakukan sesuatu?” Gandalf memandang ke luar Gerbang yang menganga, dan di padang ia sudah mendengar bunyi gemuruh pertempuran memuncak. la mengepalkan tangannya. “Aku harus pergi,” katanya. “Penunggang Hitam ada di luar, dan dia masih akan mencoba menghancurkan kita. Aku tak punya waktu.” “Tapi Faramir!” teriak Pippin. “Dia belum mati, dan mereka akan membakarnya hidup-hidup, kalau tidak ada yang menghentikan mereka.” “Membakarnya hidup-hidup?” kata Gandalf. “Cerita apa ini? Cepatlah!” “Denethor sudah pergi ke Kuburan,” kata Pippin, “dan dia membawa Faramir. Dia bilang kita semua akan dibakar, dan dia tidak mau menunggu. Mereka harus membuat tumpukan kayu bakar dan membakar dia di atasnya, begitu juga Faramir. Dia sudah menyuruh orang-orang mencari kayu dan minyak. Aku sudah menceritakan pada Beregond, tapi aku khawatir dia tidak berani meninggalkanposnya: dia sedang tugas jaga. Dan apa yang bisa dilakukannya?” Demikianlah
Pippin melaporkan ceritanya, sambil menyentuh lutut Gandalf dengan tangannya
yang gemetar. “Tak bisakah kau menyelamatkan Faramir?” “Mungkin bisa,” kata Gandalf, “tapi kalau itu kulakukan, mungkin orang lain akan mati. Well, aku harus ke sana, sebab takkan ada bantuan lain untuknya. Tapi kejahatan dan duka akibatnya. Bahkan di pusat benteng kita, Musuh punya kekuatan untuk memukul karena kehendaknyalah semua ini terjadi.” Setelah mengambil keputusan, Ia bertindak cepat; sambil mengangkat Pippin dan mendudukkannya di depannya, Ia memutar Shadowfax tanpa berkata sepatah pun. Mereka mendaki jalan-jalan menanjak di Minas Tirith dengan bunyi berderak, sementara gemuruh perang memuncak di belakang. Di mana-mana orang-orang bangkit dari keputusasaan dan rasa ngeri mereka, merenggut senjata sambil saling berteriak, “Rohan sudah datang!” Kapten-kapten berteriak, pasukan-pasukan berkumpul lagi; banyak yang sudah berbaris ke arah Gerbang. Mereka bertemu Pangeran Imrahil, dan Ia berteriak pada mereka, “Ke mana kau, Mithrandir? Kaum Rohirrim berjuang di padang Gondor! Kita harus mengerahkan seluruh kekuatan yang ada.” “Kau akan membutuhkan setiap orang dan lebih dari itu,” kata Gandalf. “Bergegaslah. Aku akan datang bila sudah bisa. Tapi ada satu tugas untuk Lord Denethor yang harus kuselesaikan, dan ini tak bisa ditunda. Kendalikan semuanya sementara Penguasa tidak ada!”
Mereka berjalan terus; ketika mendaki dan mendekati Benteng, angin berembus menerpa wajah, dan mereka menangkap kilau pagi hari di kejauhan. Tapi pemandangan itu tidak meningkatkan harapan, sebab mereka tidak tahu bencana apa yang ada di depan sana, dan mereka khawatir sudah terlambat. “Kegelapan sudah mulai menyingkir” kata Gamdaif. “tapi masih menggantung berat di atas Kota.”
Di Gerbang Benteng tidak ada penjaga. “Kalau begitu Beregond sudah pergi,”
kata Pippin, harapan mulai tumbuh di hatinya. Mereka membelok dan bergegas melewati jalan menuju Pintu Tertutup. Pintu itu kini terbuka lebar, penjaganya
terbaring di depannya. la sudah tewas dan kuncinya diambil. “Ini pekerjaan Musuh!” kata Gandalf. “Dia senang sekali perbuatan-perbuatan seperti ini: sesama kawan saling bertempur; kesetiaan terbagi dalam kebingungan hati.” Sekarang Ia turun dan menyuruh Shadowfax kembali ke kandang. “Sahabatku,” katanya, “kau dan aku sebenarnya sudah lama harus berjalan ke padang, tapi masalah-masalah lain menunda keberangkatanku. Tapi kau harus segera datang bila aku memanggilmu!” Mereka masuk ke Pintu dan berjalan terus lewat jalan curam dan berkelok-kelok. Cahaya mulai merebak, tiang-tiang tinggi serta patung-patung di sisi jalan berlalu perlahan seperti hantu-hantu kelabu. Mendadak kesunyian memecah, dan di bawah mereka mendengar bunyi teriakan dan dentingan pedang: bunyi-bunyi yang tak pernah terdengar di tempat-tempat keramat sejak pembangunan Kota. Akhirnya mereka sampai ke Rath Dinen dan bergegas menuju Rumah Para Pejabat, yang menjulang dalam cahaya senja, di bawah kubahnya yang besar. “Berhenti! Berhenti!” seru Gandalf, sambil melompat maju ke tangga batu di depan pintu. “Hentikan kegilaan ini!” Di sana ada pelayan-pelayan Denethor dengan pedang dan obor di tangan; tapi di beranda, di anak tangga terakhir, berdiri Beregond, sendirian, berpakaian hitam dan perak-seragam Penjaga dan ia mempertahankan pintu terhadap serangan mereka. Dua sudah jatuh terkena sabetan pedangnya, menodai tempat suci itu dengan darah mereka; yang lain memaki-makinya, menyebutnya pelanggar hukum dan pengkhianat terhadap majikannya. Ketika Gandalf dan Pippin berlari maju, mereka mendengar suara Denethor berteriak dari dalam kuburan, “Cepat, cepat! Lakukan yang kuperintahkan! Bunuh pembelot ini! Haruskah aku yang melakukannya sendiri?” Lalu pintu yang dipegang dengan tangan kiri oleh Beregond agar tetap tertutup, dibuka paksa, dan di belakangnya berdiri Penguasa Kota, tinggi mengancam; matanya menyorotkan sinar seperti nyala api, dan ia memegang pedang terhunus. Tapi Gandalf melompat menaiki tangga, dan orang-orang menyingkir darinya serta menutup mata; sebab kedatangannya bagai cahaya putih yang masuk ke
tempat gelap, dan Ia datang dengan kemarahan besar. la mengangkat tangannya, memukul pedang Denethor hingga terbang terlepas dari genggaman, jatuh di belakangnya, di dalam bayangan bangunan itu; Denethor melangkah mundur dari Gandalf, seperti orang terkejut.
“Apa-apaan ini, Tuanku?” kata penyihir itu. “Rumah kaum mati bukan tempat untuk yang masih hidup. Dan mengapa orang-orang bertarung di Tempat Keramat ini, sementara di depan Gerbang sudah cukup banyak pertempuran? Apakah Musuh kita sudah datang ke Rath Dinen?”
“Sejak kapan Penguasa Gondor harus bertangung jawab kepadamu?” kata Denethor. “Atau tak bolehkah aku memerintah pelayan-pelayanku sendiri?” “Boleh,” kata Gandalf. “Tapi orang lain boleh menentang kehendakmu, kalau sudah beralih ke kegilaan dan kejahatan. Di mana putramu Faramir?”
“Dia berbaring di dalam,” kata Denethor, “terbakar, sudah terbakar. Mereka menyalakan api dalam tubuhnya. Tapi segera semuanya akan terbakar. Barat sudah gagal. Semuanya akan musnah dalam kebakaran besar, dan berakhir. Abu! Abu dan asap diembus angin!”
Ketika Gandalf melihat kegilaan yang menimpa Denethor, Ia khawatir Denethor sudah melakukan suatu perbuatan yang mencelakakan. Maka Ia menerobos maju, dengan Beregond dan Pippin di belakangnya, sementara Denethor mundur sampai berdiri di samping meja di dalam. Tapi di sana mereka menemukan Faramir masih bermimpi dalam demamnya, terbaring di atas meja. Kayu kering sudah ditumpuk di bawah, juga di sekitarnya dalam tumpukan tinggi; semuanya dibasahi minyak, bahkan pakaian Faramir dan selimutnya; tapi api belum dinyalakan. Lalu Gandalf menyingkap kekuatan yang tersembunyi dalam dirinya, seperti juga cahaya kekuatan yang tersembunyi di balik jubah kelabunya. la meloncat ke atas kayu bakar, dan sambil mengangkat si sakit dengan ringan Ia melompat turun lagi, membawanya ke pintu. Tapi ketika Ia melakukan itu, Faramir mengerang dan memanggil ayahnya sambil bermimpi.
Denethor terkesiap, seperti orang tersadar dari kerasukan. Nyala api di matanya
padam, dan ia menangis, katany; “Jangan ambil putraku! Dia memanggilku.” “Dia memanggil,” kata Gandalf, “tapi kau belum bisa menjumpainya. Karena dia
harus mencari penyembuhan di ambang kematian dan mungkin saja dia tak bisa menemukannya. Sedangkan peranmu adalah pergi berperang demi Kota-mu, dan mungkin kematian menunggumu. Kau sendiri tahu itu di hatimu.” “Dia tidak akan bangun lagi,” kata Denethor. “Pertempuran itu sia-sia Untuk apa kita berharap hidup lebih lama lagi? Kenapa kita tidak mati berdampingan saja?” “Pejabat Gondor, kau tidak diberi wewenang untuk menentukan saat kematianmu,” jawab Gandalf “Hanya raja-raja kafir, di bawah kekuasaan Kekuatan Gelap, melakukan itu, membunuh diri sendiri dalam keangkuhan dan keputusasaan, membunuh saudara-saudara mereka untuk meringankan kematian mereka sendiri.” Lalu, sambil keluar dari pintu kuburan dia meletakkan Faramir di usungan yang dipakai untuk membawanya kemari, dan yang sekarang diletakkan di beranda. Denethor mengikutinya, dan berdiri sambil gemetaran, memandangi wajah putranya dengan penuh kerinduan. Sejenak Gandalf mulai ragu, sementara semuanya diam dan tenang, dan Ia sendiri menatap Penguasa yang sedang kebingungan itu.
“Ayo!” kata Gandalf. “Kita dibutuhkan. Masih banyak yang bisa kaulakukan.”
Tiba-tiba Denethor tertawa. la berdiri tegak dan bersikap angkuh lagi. Sambil berjalan cepat ke meja, ia mengangkat bantal yang tadi dipakainya. Ketika mendekati ambang pintu, Ia menyingkap selimutnya, dan lihat! di tangannya ada sebuah palantir. Saat Ia mengacungkannya ke atas, bagi mereka yang menyaksikan, tampak bola itu mulai mengeluarkan cahaya dari dalam, sehingga wajah Penguasa yang kurus itu disinari semacam api merah, dan wajahnya kelihatan seperti pahatan batu keras, tajam, dengan bayangan-bayangan gelap, anggun, angkuh, dan mengerikan. Matanya bersinar-sinar.
“Kesombongan dan keputusasaan!” teriaknya. “Apa kau mengira mata Menara
Putih itu buta? Tidak, aku sudah melihat lebih banyak daripada yang kau tahu, Kelabu Bodoh. Sebab harapanmu hanya terletak pada ketidaktahuan. Pergilah dan bekerja keras untuk penyembuhan! Maju terus dan berjuanglah! Kesombongan. Untuk sejenak kau mungkin berjaya di medan perang, hanya untuk sehari. Tapi takkan ada kemenangan melawan Kekuatan yang sekarang bangkit. Baru jari tangannya yang pertama dia ulurkan di atas Kota. Seluruh
Timur sedang bergerak. Sekarang pun angin harapanmu mengkhianatimu dan mengembuskan kapal berlayar hitam lewat Sungai Anduin. Barat sudah gagal. Sudah saatnya pergi bagi semua yang tak ingin menjadi budak.” “Saran seperti itu justru semakin memastikan kemenangan Musuh,” kata Gandalf.
“Kalau begitu, teruslah berharap!” tawa Denethor. “Bukankah aku Sudah
mengenalmu, Mithrandir? Kau berharap bisa menggantikan aku memerintah, berdiri di belakang setiap takhta, utara, selatan, atau barat. Aku sudah membaca pikiran dan kebijakan-kebijakanmu. Bukankah aku tahu bahwa kau membawa Halfling itu ke sini untuk memata-mataiku di ruanganku sendiri? Meski begitu, dalam pembicaraan kita bersama, aku sudah bisa tahu semua nama dan tujuan kawan-kawanmu. Nah! Dengan tangan kin kau mau memanfaatkan aku untuk beberapa saat sebagai perisai terhadap Mordor, dan dengan tangan kanan kau mendatangkan Penjaga Hutan dari Utara ini untuk menggantikan aku.”
“Tapi kukatakan padamu, Gandalf Mithrandir, aku tak mau menjadi alatmu! Aku
Pejabat Istana Anarion: Aku tidak akan turun takhta untuk menjadi pengurus rumah tangga tua bangka bagi orang yang sedang naik daun. Meski pengakuannya terbukti, bagaimanapun dia hanya keturunan Isildur. Aku tak mau menghormati orang seperti itu, keturunan terakhir dari keluarga istana yang acak-acakan, yang sudah lama kehilangan kebangsawanan dan martabatnya.” “Kalau begitu, apa yang kauinginkan,” kata Gandalf, “seandainya keinginanmu bisa terkabul?”
“Aku ingin semuanya seperti selama ini dalam hidupku,” jawab Denethor, “dan di masa leluhurku sebelum aku: menjadi Penguasa Kota dalam damai, dan meninggalkan takhtaku pada putraku, yang menjadi tuannya sendiri dan bukan murid seorang penyihir. Tapi kalau nasib tidak mengizinkan itu, maka aku tak mau menerima apa pun: tak mau hidupku dikurangi, atau cinta yang dibagi, atau kehormatanku menyurut.”
“Menurutku seorang Pejabat Istana yang dengan taat menyerahkan tanggung jawabnya, tidak akan kurang dicintai atau kurang dihormati,” kata Gandalf. “Dan setidaknya kau tidak boleh merampas hak putramu sementara kematiannya
masih diragukan.”
Mendengar kata-kata itu mata Denethor kembali menyala, dan sambil mengambil Batu itu ia menghunus sebilah pisau, lalu melangkah ke arah usungan. Tapi Beregond melompat maju dan menempatkan dirinya di depan Faramir.
“Nah!” seru Denethor. “Kau sudah mencuri separuh cinta putraku. Sekarang kau
juga mencuri hati ksatria-ksatriaku, hingga akhirnya mereka merampok putraku dari sisiku. Tapi setidaknya dalam hal ini kau tidak akan menentang kehendakku: mengatur akhir hayatku sendiri.” “Ayo ke sini!” teriaknya pada pelayan-pelayannya. “Kemarilah, kalau kalian tidak pengecut semuanya!” Dua pelayannya berlari menaiki tangga, mendekatinya. Dengan cepat Ia merebut sebuah obor dan tangan salah satu, dan melompat kembali ke dalam kuburan.
Sebelum Gandalf bisa menghalanginya, ia mendorong obor itu ke dalam minyak; segera api berkobar dan berderak. Lalu Denethor meloncat ke atas meja, berdiri di atasnya, dikurung api dan asap; ia memungut tongkat lambang pemerintahan yang tergeletak di dekat kakinya, dan mematahkannya di atas lututnya. Sambil membuang potongan-potongannya ke dalam api, ia membungkuk dan membaringkan diri di atas meja, menggenggam palantir dengan kedua tangan di dada. Setelah itu, konon bila ada yang memandang ke dalam Batu tersebut, ia hanya melihat dua tangan tua terbakar, kecuali bila Ia punya daya kuat untuk mengalihkan Batu itu ke tujuan lain.
Penuh kesedihan dan kengerian Gandalf membuang muka dan menutup pintu. Sejenak Ia berdiri merenung, diam di ambang pintu, sementara mereka yang berada di luar mendengar bunyi kobaran api yang rakus di dalam. Lalu Denethor berteriak keras sekali, setelah itu suaranya tak terdengar lagi, dan Ia tak pernah terlihat lagi oleh seorang manusia pun.
“Berakhir sudah riwayat Denethor, putra Ecthelion,” kata Gandalf.
Lalu ia berbicara pada Beregond dan para pelayan sang Penguasa yang berdiri
kaget di sana. “Dengan demikian berakhirlah masa Gondor yang kalian kenal;
demi kebaikan maupun keburukan, masa itu sudah berakhir. Perbuatan jahat sudah dilakukan di sini; tapi janganlah kini ada permusuhan di antara kalian, sebab Musuh-lah yang telah menciptakan dan menggerakkannya. Kalian sudah terjebak dalam sebuah jaring peperangan yang tidak kalian rajut. Tapi sekarang renungkan, kalian para pelayan Penguasa, yang buta dalam ketaatanmu, bahwa bila bukan karena pengkhianatan Beregond tadi, maka Faramir, Kapten Menara Putih, sekarang sudah tewas dibakar.”
“Sekarang bawalah kawan-kawan kalian yang sudah jatuh, keluar dari tempat penuh duka ini. Dan kita akan menggotong Faramir, Penguasa Gondor, ke suatu tempat di mana dia bisa tidur dengan tenang, atau mati jika itu sudah takdirnya.” Lalu Gandalf dan Beregond mengangkat usungan dan membawanya ke Rumah Penyembuhan, sementara di belakang mereka Pippin berjJalan tertunduk. Tapi para pelayan penguasa berdiri seperti orang bam kena tampar, sambil memandang bangunan makam itu; saat Gandalf sampai ke ujung Rath Dinen, terdengar bunyi keras. Ketika menoleh mereka melihat kubah makam itu retak dan asap keluar dari dalam; lalu dengan cepat dan bergemuruh kubah itu runtuh ke dalam kegaduhan api; tapi nyala api tidak segera padam, masih menari-nari dan berkedip-kedip di sela reruntuhan. Lalu dengan penuh ketakutan para pelayan berlari dan mengikuti Gandalf.
Akhirnya mereka sampai ke Pintu Pejabat, dan Beregond memandang penjaga
pintunya dengan sedih. “Perbuatan ini akan selalu kusesali,” katanya, “tapi aku
sedang terburu-buru, dan dia tak mau mendengarkan, malah menantangku dengan pedangnya.” Sambil mengambil kunci yang sudah direbutnya dari orang itu, Ia menutup pintu dan menguncinya. “Kunci ini sekarang harus diberikan pada Lord Faramir,” katanya.
“Pangeran dari Dol Amroth sementara memerintah menggantikan Penguasa,” kata Gandalf. “Tapi karena dia tidak berada di sini, aku yang akan memutuskan hat ini. Kuperintahkan kau menyimpan kunci itu dan menjaganya, sampai Kota sudah tertib kembali.”
Akhirnya mereka masuk ke lingkaran-lingkaran tinggi di Kota, dan dalam cahaya pagi mereka pergi menuju Rumah Penyembuhan; bangunan-bangunannya indah sekali, digunakan untuk perawatan orang-orang yang sakit parah, tapi sekarang dimanfaatkan untuk merawat orang-orang yang terluka dalam pertempuran atau yang sedang sekarat. Mereka berdiri tidak jauh dari Gerbang Benteng, di lingkar keenam, dekat tembok selatan, dan di sekelilingnya ada kebun dan lapangan rumput hijau dengan pepohonan, satu-satunya tempat semacam itu di Kota. Di sana tinggal beberapa wanita yang diperbolehkan tetap tinggal di Minas Tirith, karena mereka ahli dalam penyembuhan atau melayani para penyembuh.
Tapi ketika Gandalf dan para pendampingnya datang sambil menggotong usungan itu ke pintu utama Rumah Penyembuhan, mereka mendengar teriakan keras dari padang di depan Gerbang, semakin nyaring melengking dan tajam, membubung ke angkasa, lalu hilang ditiup angin. Teriakan itu begitu menyeramkan, sehingga untuk beberapa saat semuanya terdiam, tapi ketika suara itu sudah berlalu, mendadak semangat mereka bangkit kembali, penuh harap, seperti belum pernah mereka rasakan sejak datangnya kegelapan dari Timur; mereka merasa seolah-olah cahaya semakin terang dan matahari menerobos mega-mega.
Tapi wajah Gandalf muram dan sedih. Setelah menyuruh Beregond dan Pippin membawa Faramir ke Rumah Penyembuhan, Ia naik ke tembok di dekat sana; ia berdiri seperti patung putih di bawah sinar rnatahari, memandang jauh. Dengan kemampuan sihirnya Ia melihat apa yang sudah terjadi tadi; saat Eomer keluar dari barisan terdepan pasukannya dan berdiri di samping mereka yang jatuh di padang, Ia mengeluh, lalu menutup erat jubahnya dan pergi dari tembok. Beregond dan Pippin menemukannya berdiri merenung di depan Rumah Penyembuhan ketika mereka keluar.
Mereka memandangnya, dan sejenak ia diam. Akhirnya ia berbicara. “Teman- temanku,” katanya; “juga semua penduduk kota dan negeri Barat ini! Hal-hal yang sangat menyedihkan dan penting sudah terjadi. Apakah kita akan menangis atau bergembira? Di luar harapan, kapten musuh kita sudah
dimusnahkan, dan kalian sudah mendengar gema keputusasaannya yang terakhir. Tapi, dia tidak pergi tanpa kepedihan dan kehilangan yang pahit. Dan sebenarnya hat itu bisa kuhindari kalau perhatianku tidak dialihkan pada kegilaan Denethor. Sudah begitu jauh jangkauan Musuh! Aduh! Tapi sekarang aku mengerti, bagaimana kekuatannya bisa masuk hingga ke jantung Kota.”
“Meski para Pejabat Istana merasa telah menyimpan rapat-rapat rahasia itu di antara mereka sendiri, aku sudah lama menduga bahwa di Menara Putih ini setidaknya ada satu Batu Penglihatan tersimpan. Ketika masih bijaksana, Denethor tidak menyalahgunakannya untuk menentang Sauron, sebab dia tahu keterbatasan kekuatannya sendiri. Tapi kemudian kebijaksanaannya hilang; dan rupanya ketika bahaya di wilayahnya semakin mengancam, dia melihat ke dalam Batu itu dan tertipu: terlalu sering dia melihat ke dalamnya, kukira, terutama sejak kepergian Boromir. Dia terlalu hebat untuk ditundukkan oleh kehendak Kekuatan Gelap, tapi Kekuatan itu membuat dia hanya bisa melihat hal-hal yang boleh dilihatnya. Pengetahuan yang diperolehnya dengan cara itu tentu saja sering berguna baginya; tapi melihat kekuatan dahsyat dari Mordor yang ditunjukkan padanya menumbuhkan rasa putus asa di hatinya, sampai akal sehatnya dikalahkan.”
“Sekarang aku baru mengerti, apa yang bagiku kelihatan aneh!” kata pippin, gemetar ketika mengingatnya sambil berbicara. “Sang Penguasa pergi dari ruang tempat Faramir dibaringkan; sesudah dia kembali, baru aku tersadar bahwa dia sudah berubah, menjadi tua dan patah semangat.”
“Memang, tepat saat Faramir dibawa ke Menara, banyak di antara kami melihat cahaya aneh di ruang paling atas;” kata Beregond. “Tapi sebelumnya kami sudah pernah melihat cahaya itu, dan sudah lama didesas-desuskan di Kota bahwa kadang-kadang Penguasa bertempur dalam pikiran dengan Musuh-nya.” “Aduh! Kalau begitu dugaanku benar,” kata Gandalf “Dengan cara itulah kehendak Sauron masuk ke Minas Tirith; karena itulah aku tertahan di sini. Dan di sini aku terpaksa tetap tinggal, sebab tak lama lagi aku harus merawat orang lain, bukan hanya Faramir.”
“Sekarang aku harus turun menyambut mereka yang datang. Aku sudah melihat
kejadian di padang yang sangat menyedihkan hatiku, dan duka yang lebih besar mungkin akan terjadi. Ikutlah aku, Pippin! Tapi kau, Beregond, harus kembali ke Benteng dan memberitahu kepala Pengawal di sana apa yang sudah terjadi. Aku khawatir dia terpaksa menarikmu dari jajaran Pengawal; tapi katakan kepadanya bahwa kalau aku boleh memberi saran, kau harus dikirim ke Rumah Penyembuhan, untuk menjadi penjaga dan pelayan bagi kaptenmu; dan mendampinginya saat dia bangun kalau itu terjadi. Sebab kaulah yang menyelamatkan dia dari api. Pergilah sekarang! Aku akan segera kembali.” Dengan kata-kata itu Ia memutar badannya dan pergi bersama Pippin, menuju kota bagian bawah. Ketika mereka bergegas pergi, angin membawa hujan kelabu, semua api padam, dan di depan mereka asap membubung tinggi.

The Lord Of The Rings #Kembalinya Sang Raja (bab 6)


BAB 6 PERTEMPURA.N DI PADANG PELENNOR
Tapi bukan pemimpin Orc atau Orc perampok yang memimpin serbuan ke Gondor. Kegelapan terlalu cepat sirna, sebelum waktu yang ditentukan sang Penguasa untuk sementara nasib telah mengkhianatinya, dan dunia sudah berbalik menentangnya; kemenangan luput dari tangan yang sedang diulurkannya. Tapi panjang nian tangannya. la masih berkuasa, mempunyai kekuatan besar. Raja, Hantu Cincin, Penguasa Nazgul, Ia punya banyak senjata. la meninggalkan Gerbang dan pergi.
Theoden raja dari Mark sudah mencapai jalan dari Gerbang ke Sungai, dan Ia berpaling menuju Kota yang kini tak sampai satu mil jauhnya. la mengurangi kecepatannya sedikit, mencari-cari musuh baru. Ksatria-ksatria berkumpul di sekitarnya, Dernhelm juga bergabung dengan mereka. Di depan, agak lebih dekat ke tembok, anak buah Elfhehn berada di tengah mesin-mesin penyerbu, memukul, membunuh, mengusir musuh-musuh ke dalam kobaran api mereka. Sudah hampir seluruh bagian utara Padang Pelennor direbut, kemah-kemah terbakar, Orc-Orc berlarian ke Sungai seperti gerombolan hewan dikejar pemburu; dan kaum Rohirrim pergi ke sana kemari sekehendak mereka. Tapi mereka belum berhasil mematahkan pengepungan, atau merebut Gerbang. Masih banyak musuh berdiri di depannya, dan di sisi lain padang itu masih ada pasukan-pasukan lain yang belum dihajar. Di selatan, di seberang jalan, ada pasukan utama kaum Haradrim. Pasukan berkuda mereka berkumpul di dekat panji sang pemimpin. la memandang keluar, dan dalam cahaya yang semakin terang Ia melihat panji Raja. Tampak olehnya pasukan Raja jauh sekali dari pertempuran dengan hanya sedikit anak buah. Lalu hatinya dipenuhi amarah besar dan Ia berteriak lantang. Sambil memamerkan panjinya yang berlambang ular hitam di atas warna merah manyala, ia menyerbu ke arah kuda putih dan hijau dengan sejumlah besar anak buahnya; pedang lengkung yang dihunus kaum Southron berkilauan bagai bintang-bintang.Lalu Theoden menyadari kedatangannya, dan tidak menunggu. Sambil berteriak pada Snowmane Ia langsung menyerbu menyambut musuhnya. Benturan antara keduanya dahsyat sekali. Tapi amarah manusia Utara lebih membara, dan mereka ksatria-ksatria yang jauh lebih terampil dengan tombak panjang, juga lebih tabah. Jumlah mereka lebih sedikit, tapi mereka membelah kaum Southron bagai petir di hutan. Theoden putra Thengel maju terus menerobos pasukan musuh, dan tombaknya patah ketika Ia menjatuhkan pemimpin mereka. Keluarlah pedangnya, dan ia berpacu menuju panji, menebas tiang panji serta pembawanya; ular hitam itu terperosok. Lalu semua yang tersisa dari.pasukan musuh berkuda itu berbalik dan lari terbirit-birit.
Tapi lihat! Tiba-tiba, sementara Raja duduk di atas kudanya dengan penuh kegemilangan, perisai emasnya meredup. Pagi hari yang baru merebak, terhapus dari langit. Kegelapan menyelubunginya. Kuda-kuda mendompak dan meringkik. Orang-orang yang terlempar dari pelana menggeliat di tanah. “Kemari! Kemari!” teriak Theoden. “Bangkit kaum Eorlingas! Jangan takut pada kegelapan!” Tapi Snowmane yang mengganas ketakutan, mendompak tinggi, mencakar-cakar udara, lalu dengan teriakan keras Ia rebah pada sisinya: sebatang panah hitam menembusnya. Raja jatuh tertindih di bawahnya. Bayang-bayang besar itu turun seperti gumpalan awan mendung. Dan lihatlah! Ternyata satu makhluk bersayap: kalau Ia burung, ia jauh lebih besar daripada burung-burung lain, dan tubuhnya gundul, tidak berbulu, ujung-ujung sayapnya besar bagaikan jaringan kulit di antara jari-jarinya yang bertanduk; dan baunya pun sangat busuk. Mungkin ia makhluk dari dunia kuno, dari jenis yang tinggal di Pegunungan dingin di bawah Bulan yang sudah terlupakan, dan hidup lebih lama daripada semestinya; dalam sarang mereka yang mengerikan, mereka membesarkan keturunan mereka yang terakhir dan lahir terlalu cepat, yang wataknya cenderung jahat. Lalu Penguasa Kegelapan mengambilnya, memeliharanya, dan memberinya makan daging busuk, Sampai ia tumbuh melebihi ukuran semua makhluk terbang; lalu diberikannya makhluk itu pada pelayannya untuk dipakai sebagai kuda jantan tunggangannya. la menukik turun, terus turun, lalu, Sambil melipat sayapnya yang berjari, ia mengeluarkan teriakan
parau dan hinggap di atas tubuh Snowmane, menghunjamkan cakarnya, membungkukkan lehernya yang panjang dan gundul. Di atasnya duduk sebuah sosok besar mengancam, berjubah hitam. la memakai mahkota baja, tapi di antara lingkaran mahkota dan jubahnya tak ada yang terlihat, kecuali kilatan mata mematikan: dialah Penguasa Nazgul. Ia sudah kembali ke angkasa, memanggil kuda jantannya sebelum kegelapan hilang, dan kini Ia datang lagi, membawa kehancuran, mengubah harapan menjadi keputusasaan, kemenangan menjadi kematian. Di tangannya ada sebatang tongkat hitam besar.
Tapi Theoden tidak sepenuhnya ditinggal sendirian. Ksatria-ksatria istananya bertebaran di sekitarnya, sudah tewas, atau sudah dibawa jauh oleh kuda-kuda mereka yang terserang kegilaan. Tapi masih ada satu ksatria berdiri di sana: Dernhelm yang belia, tetap setia, melampaui rasa takutnya; dan Ia menangis, sebab ia mencintai tuannya sebagai ayahnya. Merry terbawa di belakangnya tanpa terluka, menembus serbuan, sampai Bayang-Bayang itu datang; lalu Windfola melemparkan mereka dalam ketakutannya, dan sekarang Ia berlari liar di padang. Merry merangkak dengan tangan dan kakinya, seperti hewan yang linglung, hatinya penuh kengerian sampai-sampai ia menjadi buta dan mual. “Pendamping Raja! Pendamping Raja!” hatinya berteriak. “Kau harus tetap bersamanya. Katamu dia akan kauanggap seperti ayahmu sendiri.” Tapi tekadnya tidak bereaksi, dan tubuhnya gemetar. la tak berani membuka matanya atau menengadah.
Lalu dan dalam kegelapan pikirannya ia merasa mendengar Dernhelm berbicara; tapi sekarang suaranya kedengaran aneh, mengingatkan pada suara lain yang dikenal Merry. “Enyah, keparat busuk, penguasa burung pemakan bangkai! Jangan ganggu orang-orang mati!”
Sebuah suara dingin menjawab, “Jangan pisahkan Nazgul dengan mangsanya! Kalau tidak, dia takkan membunuhmu saat giliranmu tiba. Dia akan membawamu pergi ke rumah ratapan, dalam kegelapan paling kelam, di mana dagingmu akan dilahap, dan pikiranmu yang sudah keriput dihadapkan kepada Mata Tanpa
Kelopak.” Sebilah pedang berdenting saat dihunus. “Lakukan sekehendakmu tapi aku akan menghalangimu sebisaku.” “Menghalangiku! Kau bodoh. Tak ada laki-laki hidup yang bisa merintangiku!” Kemudian Merry mendengar bunyi paling aneh pada saat Rupanya Dernhelm tertawa, suaranya yang jernih terdengar seperti dentingan baja. “Tapi aku bukan laki-laki! Yang kaupandang ini seorang wanita. Aku Eowyn, putri Eomund. Kau berdiri di antara aku dan Tuanku yang juga kerabatku. Pergi, kalau kau bukan makhluk yang tak bisa mati! Sebab baik hidup atau gelap tapi tidak mati, aku akan memukulmu, kalau kau menyentuhnya.” Makhluk bersayap itu berteriak kepadanya, tapi si Hantu Cincin tidak menjawab; Ia membisu, seolah tiba-tiba bimbang. Keheranan yang amat sangat sejenak mengalahkan ketakutan Merry. Ia membuka matanya dan kegelapan sudah lenyap. Beberapa langkah dari dirinya duduklah hewan besar itu, semua di sekitarnya kelihatan gelap, dan di atasnya muncul Penguasa Nazgul bagai bayang-bayang keputusasaan. Agak di sebelah kiri, menghadap mereka, berdiri orang yang dipanggilnya Dernhelm. Tapi helm yang menutupi rahasianya sudah tersingkap, dan rambutnya yang kemilau, terlepas dari ikatannya, bersinar pucat keemasan di atas bahunya. Matanya yang kelabu seperti samudra bersinar keras dan tajam, namun pipinya basah oleh air mata. Pedang ada di tangannya, dan ia mengangkat perisainya sebagai perlindungan terhadap mata musuh yang menyeramkan. Memang dia Eowyn, tapi juga Dernhelm. Sebab dalam benak Merry terlintas ingatan kepada wajah yang dilihatnya pada saat keberangkatan pasukan dari Dunharrow wajah seseorang yang mencari kematian, karena sudah tak punya harapan. Rasa iba dan kekaguman memenuhi hati Merry, dan tiba-tiba dalam dirinya bangkitlah keberanian bangsanya yang biasanya memang timbul lamban. la mengepalkan tangannya. Eowyn tak boleh mati, ia begitu cantik, dan begitu nekat! Setidaknya jangan sampai ia mati sendirian, tanpa bantuan. Wajah musuh tidak menghadap ke arahnya, tapi Ia masih belum berani bergerak, khawatir mata yang mengerikan itu akan melihatnya. Perlahan-lahan,
sangat perlahan, Ia mulai merangkak ke pinggir; tapi Kapten Hitam, yang dalam kebimbangan dan kekejiannya sedang memusatkan perhatian pada wanita di depannya, tidak menghiraukan, seakan-akan ia hanya seekor cacing dalam lumpur.
Mendadak hewan besar itu mengepakkan sayapnya yang menjijikkan, baunya luar biasa busuk. la melompat lagi ke udara, dan dengan cepat menukik ke arah Eowyn, sambil menjerit, memukul dengan paruh dan cakarnya. Eowyn tetap tak bergerak: gadis kaum Rohirrim, keturunan para raja, ramping namun setangguh pisau baja, cantik sekaligus mengerikan. la melancarkan pukulan cepat; sangat andal dan mematikan. la menebas leher yang terjulur itu, dan kepala yang terpenggal itu jatuh bagai batu. la melompat mundur ketika sosok besar itu jatuh dan hancur, dengan sayap terbentang lebar, rebah ke tanah; dengan kejatuhannya, bayangan gelap pun sirna. Cahaya menyinari Eowyn, dan rambutnya berkilauan dalam cahaya matahari.
Dalam reruntuhan bangkitlah Penunggang Hitam, tinggi mengancam, membubung tinggi di atasnya. Dengan teriakan penuh kebencian yang menusuk telinga bagai racun, Ia menjatuhkan tongkatnya. Perisai Eowyn pecah berkeping- keping, dan lengannya patah; Ia jatuh berlutut. Penunggang Hitam membungkuk di atasnya bagai awan, matanya bersinar-sinar; Ia mengangkat tongkatnya untuk membunuh gadis itu.
Tapi tiba-tiba Ia sendiri jatuh terjungkal sambil menjerit kesakitan, dan pukulannya melenceng jauh, menghunjam ke tanah. Pedang Merry menusuknya dari belakang, menembus jubah hitamnya, dan naik dari balik hauberk-nya, menembus otot di balik lututnya yang besar.
“Eowyn! Eowyn!” teriak Merry. Sambil terhuyung-huyung Eowyn bangkit berdiri dengan susah payah, dan dengan kekuatannya yang terakhir Ia menusukkan pedangnya ke antara mahkota dan jubah ketika pundak besar si Penunggang Hitam membungkuk jatuh di depannya. Mahkotanya menggelinding berdentang. Eowyn jatuh di atas musuhnya yang rebah terjerembap. Tapi lihat! Jubah dan baju besi makhluk itu kosong, menggeletak tanpa bentuk di tanah, hancur luluh. Lalu sebuah teriakan menggaung di angkasa yang bergetar, dan meredup
menjadi lengkingan menyayat, berlalu bersama angin, desir suara tanpa tubuh, lalu diam dan mati, tertelan tuntas dan tak pernah terdengar lagi di kurun zaman itu di dunia ini.
Dan di sanalah berdiri Meriadoc si hobbit, di tengah-tengah orang-orang yang tewas, mengedipkan matanya seperti burung hantu di siang hari, karena matanya penuh air mata; seperti melalui kabut ia memandang kepala Eowyn yang cantik, yang berbaring tak bergerak di sana; Ia juga menatap wajah Raja yang jatuh di tengah kegemilangannya. Sebab Snowmane, dalam kesakitannya, berguling menjauh darinya; namun hal itu malah membawa petaka bagi majikannya.
Merry membungkuk dan mengangkat tangan sang Raja untuk mengecupnya, dan lihat! Theoden membuka mata, matanya jernih sekali, dan ia berbicara dengan suara tenang, meski susah payah. “Selamat tinggal, Master Holbytla!” katanya. “Tubuhku sudah hancur. Aku akan pergi kepada nenek moyangku. Sekarang aku tak merasa malu lagi menghadap mereka. Aku sudah membunuh ular hitam itu. Pagi yang muram, dan hari yang gembira, dan matahari emas terbit!”
Merry tak mampu berbicara; ia menangis lagi. “Maafkan aku, Tuanku,” akhirnya ia berkata, “bahwa aku melanggar perintahmu, dan hanya bisa melayanimu dengan menangis pada saat perpisahan kita.” Raja tua itu tersenyum. “Jangan sedih! Sudah kumaafkan. Jiwa besar takkan ditolak. Hiduplah terus dengan penuh berkat; saat nanti kau duduk tenang dan damai mengisap pipamu, ingatlah aku! Sebab kini aku takkan pernah duduk bersamamu di Meduseld, seperti telah kujanjikan, atau mendengarkan pengetahuanmu tentang tanaman bumbu.” Ia memejamkan matanya, dan Merry membungkuk di sampingnya. Akhirnya Raja berbicara lagi. “Di mana Eomer? Penglihatanku sudah mulai gelap. Aku ingin bertemu dia sebelum aku pergi. Dia harus menjadi raja menggantikan aku. Dan aku ingin mengirimkan pesan pada Eowyn. Dia, dia tak ingin aku meninggalkannya, dan kini aku takkan bertemu lagi dengannya, dia yang sangat kusayangi sepcrti putriku sendiri.”
“Tuanku, Tuanku,” Merry mulai berkata terbata-bata, “dia ...” Tapi tepat pada saat itu terjadi kegemparan besar, dan di sekitar mereka bunyi terompet terdengar. Merry melihat sekelilingnya: Ia sudah lupa akan perang dan seluruh dunia di luarnya; rasanya sudah lama sekali sejak Raja maju menyongsong kejatuhannya, padahal sebenarnya baru sebentar sekali. Sekarang Ia melihat bahwa mereka terancam terjebak di tengah pertempuran besar yang akan segera terjadi.
Pasukan-pasukan baru dari pihak musuh sedang bergegas di jalan dari Sungai; dari bawah dinding-dinding, legiun-legiun dari Morgul berdatangan; dan dari padang-padang di sebelah selatan datang pasukan pejalan kaki dari Harad dengan pasukan berkuda di depan mereka, di belakang mereka muncul punggung-punggung besar para mumakil dengan menara perang di atasnya. Tapi di sebelah utara, helm putih Eomer memimpin barisan depan kaum Rohirrim yang sudah dikumpulkan dan disusunnya kembali; dari Kota keluar seluruh kekuatan pasukan yang ada di dalamnya, dan panji angsa perak Dol Amroth diusung di barisan depan, mengusir musuh dari Gerbang.
Sejenak sebuah pikiran melintas dalam benak Merry: “Di mana Gandalf? Apakah dia tidak di sini? Bukankah dia bisa menyelamatkan Raja dan Eowyn?” Tapi kemudian Eomer datang melaju dengan cepat, dan bersamanya ikut pula para ksatria istana yang masih hidup dan sudah bisa mengendalikan kuda-kuda mereka. Mereka memandang heran ke bangkai hewan jahat yang terbaring di sana; kuda-kuda jantan mereka tak mau mendekatinya. Tapi Eomer melompat dari Pelana, kesedihan serta kecemasan tergurat di wajahnya ketika ia mendekati Raja dan berdiri di sana dalam diam.
Lalu salah seorang ksatria mengambil panji Raja dari tangan Guthlaf, pembawa panji yang terbaring tewas, dan mengangkatnya. Perlahan-lahan Theoden membuka mata. Melihat panjinya diangkat, ia memberi isyarat agar panji itu diberikan pada Eomer.
“Hidup, Raja dari Mark!” katanya. “Majulah sekarang ke kemenangan! Sampaikan salam perpisahanku pada Eowyn!” Lalu ia menutup mata, tak tahu bahwa Eowyn terbaring di dekatnya. Mereka yang berdiri di sana menangis,
sambil berteriak, “Raja Theoden! Raja Theoden!”
Tapi Eomer berkata,
Jangan sedih berlebihan! Penuh keagungan dia yang jatuh, perburuan menjadi akhir hayatnya. Saat kuburannya dibangun, wanita-wanita akan menangis. Sekarang perang memanggil kita!
Tapi Ia sendiri berbicara sambil menangis. “Biarkan ksatria-ksatrianya tetap di sini,” katanya, “dan mengusung jenazahnya dengan penuh hormat keluar dari medan laga, agar pertempuran tidak melindasnya! Ya, juga semua anak buah Raja yang terbaring di sini.” Dan Ia memandang mereka yang tewas, mengingat- ingat nama-nama mereka. Tiba-tiba Ia melihat adiknya, Eowyn, terbaring di sana, dan ia mengenalinya. la berdiri sejenak seperti orang yang jantungnya ditembus anak panah sementara ia tengah berteriak; lalu wajahnya menjadi pucat pasi, dan kemarahan besar memuncak dalam dirinya, sampai Ia tak mampu berbicara beberapa saat lamanya. Perasaannya tak keruan.
“Eowyn, Eowyn!” akhirnya Ia berteriak. “Eowyn, bagaimana kau bisa sampai ke sini? Apakah ini kegilaan atau sihir? Kematian, kematian, kematian! Kematian menimpa kita semua!” Lalu tanpa berembuk atau menunggu kedatangan orang-orang dari Kota, ia langsung berpacu kembali ke depan pasukan, meniupkan terompet, dan berteriak keras untuk menyerbu. Di atas padang suaranya yang jernih berkumandang, “Kematian! Maju, maju ke kehancuran dan akhir dunia!”
Dan dengan kata-kata itu pasukan mulai bergerak. Tapi kaum Rohirrim tidak bernyanyi lagi. Kematian, mereka teriakkan dengan satu suara nyaring mengerikan, dan sambil menambah kecepatan, pasukan mereka menyapu bagai gelombang pasang besar di sekitar Raja yang telah jatuh dan berpulang, menuju selatan dengan suara gemuruh.
Meriadoc si hobbit masih berdiri di sana sambil mengedipkan matanya yang dipenuhi air mata; tak ada yang berbicara kepadanya, bahkan tak ada yang
menghiraukannya. la menyeka air matanya, membungkuk untuk memungut perisai hijau yang dibenkan Eowyn kepadanya, lalu menggantungkannya di punggungnya. Setelah itu ia mencari pedangnya yang sudah Ia jatuhkan; sebab ketika Ia mengayunkan pukulan tadi, lengannya menjadi mati rasa, dan kini Ia hanya bisa menggunakan tangan kirinya. Dan lihat! Itu dia senjatanya, tapi mata pedangnya berasap seperti dahan kering yang dilempar ke dalam api; saat ia memperhatikan, pedang itu menggeliat dan menyusut, lalu hilang lenyap. Begitulah akhir pedang dari Barrow-downs, hasil karya kaum Westernesse. Tapi pembuatnya pasti senang bila tahu takdirnya. Pedang itu ditempa dengan cermat, lama berselang di kerajaan Utara, ketika kaum Dunedain masih muda, dan musuh utama mereka adalah wilayah Angmar yang mengerikan dengan raja penyihirnya. Tak ada pedang lain, meski ditempa oleh tangan-tangan yang lebih hebat, yang bisa melukai musuh begitu parah, membelah daging yang hidup, memecahkan sihir yang menjalin otot-otot tak terlihat, sesuai kehendaknya.
Beberapa orang mengangkat jenazah Raja, memindahkannya ke atas usungan dari tombak-tombak yang ditutupi beberapa helai jubah, lalu menggotongnya ke Kota; yang lain mengangkat Eowyn dengan lembut dan mengusungnya di belakang Raja. Tapi mereka belum sempat membawa para anak buah istana yang bertebaran di padang; sebab tujuh ksatria Raja sudah jatuh di sana, dan salah satunya, Deorwine, pemimpin mereka. Jadi, tubuh-tubuh mereka dipisahkan dari mayat-mayat musuh dan hewan Was itu, lalu mereka menancapkan tombak-tombak mereka di sekitarnya. Tapi setelah semuanya berakhir, orang-orang kembali ke sana dan membuat api untuk membakar bangkai hewan itu; untuk Snowmane mereka menggali kuburan dan menempatkan batu di atasnya, dengan tulisan dalam bahasa Gondor dan Mark:
Pelayan setia namun menjadi petaka bagi tuannya, Anak kuda yang ringan langkah, Snowmane yang berlari cepat.
Rumput di atas makam Snowmane tumbuh hijau dan panjang, Tapi tanah tempat
hewan buas itu dibunuh selamanya hitam dan gersang.
Dengan perlahan dan sedih Merry berjalan di samping para pengusung, tidak lagi memperhatikan pertempuran. la letih dan kesakitan, tungkai dan lengannya gemetar seperti kedinginan. Hujan besar datang dari arah Laut, dan tampaknya seolah-olah semua menangis untuk Theoden dan Eowyn, memadamkan kebakaran-kebakaran di Kota dengan air mata kelabu. Melalui kabut air matanya Merry melihat barisan terdepan pasukan Gondor mendekat. Imrahil, Pangeran dari Dol Amroth, datang dan menghentikan kudanya di depan mereka.
“Apa yang kalian usung, Orang-Orang Rohan?” teriaknya. “Raja Theoden,” jawab mereka. “Dia tewas. Tapi Eomer yang sekarang menjadi raja, sedang bertempur di sana: dia yang memakai bulu putih di atas helmnya, yang melambai-lambai ditiup angin.” Lalu sang pangeran turun dari kudanya, dan berlutut dekat usungan untuk. menghormati Raja yang telah menyerbu dengan gagah; ia menangis. Sambil bangkit berdiri Ia melihat Eowyn, dan terkejut. “Ini seorang wanita?” katanya. “Apakah wanita-wanita dari Rohirrim juga sudah dikerahkan untuk ikut perang membantu kami?” “Tidak! Hanya satu ini,” jawab mereka. “Dia Lady Eowyn, adik Eomer; dan baru sekarang kami tahu bahwa dia ikut berperang. Kami sangat menyesalinya.” Lalu sang pangeran yang melihat kecantikannya, meski wajahnya pucat dan dingin, menyentuh tangannya sambil membungkuk untuk melihatnya dengan lebih saksama. “Manusia Rohan!” serunya. “Apakah di antara kalian tidak ada penyembuh? Dia memang terluka, mungkin nyaris mematikan, tapi kuduga dia masih hidup.” Dan ia menjulurkan tabung logam, pelindung lengan bawah yang mengilap, yang terpasang pada lengannya, ke depan bibir Eowyn yang dingin, dan lihat! embun tipis menempel di permukaannya, hampir tidak kelihatan. “Cepat, kita perlu bertindak segera;” katanya, dan Ia mengirimkan satu anak buahnya kembali ke Kota untuk memanggil bantuan. Tapi ia sendiri, sambil membungkuk rendah ke arah kedua korban, berpamitan dengan mereka, dan sambil naik ke atas kiidanya melaju pergi ke medan laga.
Pertempuran di padang Pelennor semakin sengit; gemuruh senjata-senjata terdengar keras, bersamaan dengan teriakan orang-orang dan ringkikan kuda- kuda. Bunyi sumbang terompet dan nafiri terdengar, dan para mumakil melenguh saat mereka didorong-dorong masuk ke pcrtempuran. Di bawah tembok-tembok Kota bagian selatan, pasukan pejalan kaki dari Gondor mendesak pasukan Morgul yang masih berkumpul di sana. Tapi pasukan berkuda melaju ke timur untuk menolong Eomer: Hurin si Jangkung, Pemegang Kunci, Penguasa Lossamach, Hirluin dari Bukit Hijau, dan Pangeran Imrahil yang gagah dengan ksatria-ksatrianya.
Mereka datang tepat pada waktunya untuk membantu kaum Rohirrim; sebab nasib sudah berbalik menentang Eomer, dan kemarahannya sudah mengkhianatinya. Kedahsyatan serbuannya telah menjatuhkan barisan depan musuhnya, dan banyak penunggang sudah menembus masuk ke dalam barisan kaum Southron, mengganggu orang-orang mereka yang berkuda, serta menggilas pasukan pejalan kaki mereka. Tapi di mana para mumakil datang, kuda-kuda tidak mau mendekat, melainkan mendongak kaget dan membelok menjauh; hewan-hewan besar itu tidak dilawan, dan mereka berdiri di sana seperti menara pertahanan, dengan kaum Haradrim berkumpul di dekatnya. Situasi kaum Rohirrim, yang dalam serbuannya diungguli kaum Haradrim dengan jumlah pasukan tiga kali lipat, malah semakin buruk; sebab sekarang kekuatan baru datang mengalir ke padang dari Osgiliath. Di sana pasukan- pasukan itu sudah berkumpul untuk penggarongan Kota dan penghancuran Gondor, menunggu panggilan dari Kapten mereka. Kapten mereka sudah hancur, tapi Gothmog si letnan dari Morgul menerjunkan mereka ke dalam keributan itu; kaum Easterling dengan kapak-kapak, kaum Variag dari Khand, bangsa Southron berpakaian merah tua, dan dari Harad Jauh, orang-orang hitam yang tampak seperti setengah troll dengan mata putih dan lidah merah. Beberapa di antara mereka sekarang mengejar kaum Rohirrim dari belakang, yang lainnya pergi ke barat untuk menahan kekuatan dari Gondor dan menghalangi mereka bergabung dengan Rohan.
Demikianlah, ketika nasib buruk mulai berbalik menimpa pihak Gondor dan harapan mereka sudah guncang, sebuah teriakan baru bergema di Kota. Saat itu sudah tengah hari, angin besar bertiup, dan hujan terbang ke utara, sementara matahari bersinar. Di udara jernih flu para pengamat di atas tembok melihat pemandangan baru yang menakutkan di kejauhan, dan harapan terakhir mereka lenyap sudah.
Sebab Sungai Anduin, sejak tikungan di Hariond, mengalir sedemikian rupa, sehingga dari atas Kota orang-orang bisa melihatnya sejauh beberapa league, dan mereka yang bisa melihat jauh, bisa melihat kapal-kapal yang datang. Ketika melihat ke sana, mereka berteriak cemas; sebab tampak sebuah armada hitam berlayar dibawa angin di atas aliran sungai yang berkilauan: dromund, dan kapal-kapal besar dengan banyak dayung serta layar-layar hitam menggelembung kena angin.
“Para Corsair dari Umbar!” teriak orang-orang. “Para Corsair dari Umbar! Lihat! Para Corsair dari Umbar sudah datang! Kalau begitu Belfalas sudah jatuh, dan Ethir serta Lebennin sudah hilang. Para Corsair menyerang kita! Ini pukulan maut terakhir!”
Karena tak ada yang bisa memimpin mereka di Kota, beberapa orang berlarian ke lonceng-lonceng dan membunyikan alarm; beberapa meniupkan terompet sebagai tanda untuk bergerak mundur. “Kembali ke tembok-tembok!” teriak mereka. “Kembali ke tembok! Kembali ke Kota sebelum semua kewalahan!” Tapi angin yang mendorong kapalkapal itu bertiup kencang dan menyapu hiruk-pikuk suara mereka sampai hilang tanpa arti.
Kaum Rohirrim memang tidak membutuhkan berita atau alarm. Mereka bisa melihat sendiri dengan jelas layar-layar hitam itu. Sebab sekarang Eomer berada kurang satu mil dari Hariond, dan sepasukan besar musuh berada di antara dirinya dengan pelabuhan di sana, sementara musuh-musuh baru datang berputar-putar di belakang, memisahkannya dari Pangeran Imrahil. Sekarang Ia memandang ke arah Sungai, dan harapan di hatinya sirna; angin yang tadi dipujinya sekarang ia maki-maki. Tapi pasukan-pasukan Mordor semakin bersemangat; dipenuhi kemarahan dan gairah baru mereka datang menyerbu
sambil berteriak-teriak. Hati Eomer kini mengeras, dan pikirannya kembali jernih. la menyuruh terompet- terompet ditiup untuk sedapat mungkin memanggil semua anak buahnya berkumpul di sekeliling panjinya; sebab ia merencanakan membentuk dinding perisai pagar betis, dan bertahan, bertempur tanpa berkuda sampai tetes darah terakhir, dan melakukan tindak kepahlawanan di padang Pelennor seperti yang dinyanyikan dalam lagu-lagu, meski takkan ada manusia tersisa di Barat yang ingat Raja terakhir dari Mark. Maka Ia beranjak ke sebuah bukit hijau dan menancapkan panjinya di sana, dan Kuda Putih itu berkibar ditiup angin.
Keluar dari kebimbangan, keluar dari kegelapan, menyongsong pagi datang Aku melangkah di bawah sinar mentari sambil bernyanyi dan menghunus pedang. Aku melaju sampai ke akhir pengharapan, dan menuju kepedihan: Mengumbar kemarahan, menuju kehancuran di malam yang merah!
la mengucapkan sajak itu, tapi sambil tertawa. Sebab sekali lagi semangat pertempuran bergolak dalam dirinya; dan Ia masih belum cedera, Ia masih muda, dan Ia seorang raja: penguasa rakyat yang berkekuatan dahsyat. Dan lihat! Sambil menertawakan keputusasaan, ia memandang kapal-kapal hitam itu lagi, dan mengacungkan pedangnya untuk menantang mereka.
Namun tiba-tiba Ia diliputi keheranan, serta lonjakan kegembiraan besar; dilemparkannya pedangnya ke udara yang disinari matahari, dan bernyanyi sambil menangkapnya kembali. Semua mata mengikuti tatapannya, dan lihatlah! Di atas kapal terdepan sebuah panji besar muncul, dan angin menyingkapkannya ketika kapal itu berbelok ke Hariond. Tampak lambang pohon Putih, lambang Gondor, tapi ada Tujuh Bintang di sekitarnya, serta sebuah mahkota tinggi di atasnya, lambang-lambang Elendil yang sudah bertahun-tahun tak pernah dipakai seorang pun penguasa. Dan bintang-bintang itu bersinar di bawah cahaya matahari, karena gambar itu dibuat dari permata oleh Arwen putri Elrond; dan mahkotanya berkilauan di pagi hari itu, karena
terbuat dari mithril dan emas. Demikianlah kedatangan Aragorn, Elessar, pewaris Isildur, keluar dari Jalan Orang-Orang Mati, didorong angin dari Laut sampai ke Kerajaan Gondor; kaum Rohirrin mengungkapkan kegembiraan mereka dengan sorak sorai dan tawa ria disertai kilatan pedang, suka-cita dan keheranan dari Kota dilantunkan dengan bunyi terompet serta loncenglonceng yang berdentang. Tapi pasukan-pasukan dari Mordor kebingungan melihat kapal-kapal mereka sendiri berisi musuh- musuh; mereka pikir itu pasti perbuatan sihir. Mereka dilanda rasa ngeri mencekam, karena mereka tahu bahwa nasib sudah berbalik menentang mereka, dan ajal mereka sudah dekat. Kstaria-ksatria Dol Amroth melaju ke timur, mendesak musuh di depan mereka: manusia troll, Variag, dan Orc yang benci cahaya matahari. Eomer melaju ke selatan, dan musuh-musuh lari porak-poranda di depannya; mereka seperti terjebak di antara palu dengan landasannya. Sebab sekarang orang-orang berlompatan dari atas kapal ke dermaga Hariond, dan melaju ke utara seperti badai. Muncullah Legolas, Gimli yang mengayunkan kapaknya, Halbarad yang membawa panji, Elladan dan Elrohir dengan bintang-bintang di dahi mereka serta kaum Dunedain yang bertangan baja, para Penjaga Hutan dart Utara, memimpin rakyat yang gagah berani dari Lebennin dan Lamedon serta ladang- ladang di Selatan. Dan di depan semuanya melajulah Aragorn dengan Api dari Barat, Anduril yang bagai api baru dinyalakan, Narsil yang ditempa kembali menjadi bentuknya yang asli; dan di dahinya ada Bintang Elendil. Demikianlah akhirnya Eomer dan Aragorn bertemu di tengah pertempuran; sambil bertumpu pada pedang masing-masing, mereka saling memandang, sangat gembira. “Kita bertemu lagi, meski seluruh pasukan Mordor ada di antara kita,” kata Aragorn kemudian. “Bukankah sudah kukatakan begitu di Homburg sana?” “Memang kau berkata begitu,” kata Eomer, “tapi kita sering tertipu oleh harapan, dan saat itu aku tak tahu kau bisa melihat masa depan. Bantuan tak terduga ini merupakan berkat ganda, dan belum pernah pertemuan dua sahabat sebahagia ini.” Mereka pun saling berjabat tangan. “Juga belum pernah begitu tepat pada
waktunya,” kata Eomer. “Kau tidak datang terlalu awal, sahabatku. Sudah banyak kehilangan dan kepedihan yang kami derita.” “Kalau begitu mari kita balas dendam, sebelum membahasnya!” kata Aragorn, dan mereka pun maju bersama-sama ke lahan pertempuran.
Masih banyak perjuangan dan kerja keras di depan mereka; sebab kaum Southron bangsa yang berani dan keras, dan garang kalau sudah putus asa; sedangkan kaum Easterling kuat dan berhati baja dan tidak akan minta ampun. Maka di sana-sini, dekat perumahan atau gudang yang sudah terbakar, di atas bukit-bukit kecil atau gundukan-gundukan, di bawah tembok atau di padang, mereka masih bergerombol dan bersatu, bertempur sampai hari sudah semakin larut.
Matahari akhirnya turun di belakang Mindolluin, mengisi seluruh langit dengan nyala api, sampai bukit-bukit dan pegunungan berwarna merah darah; api menyala di Sungai, dan rumput Pelennor terhampar merah di senja hari. Di saat itu Pertempuran Besar di Gondor berakhir, tak satu pun musuh hidup yang tersisa di sekitar Rammas. Semuanya tewas, kecuali mereka yang lari untuk mati, atau tenggelam di busa merah Sungai. Hanya sedikit yang bisa sampai ke Morgul di timur atau Mordor; dan di negeri Haradrim hanya tersiar dongeng dari jauh selentingan tentang kemarahan dan teror dari Gondor.
Aragorn, Eomer, serta Imrahil kembali ke Gerbang Kota. Mereka begitu letih, sampai tidak lagi merasakan kegembiraan maupun kepedihan. Ketiganya tidak cedera, sebab memang begitulah keberuntungan, kepiawaian, serta kehebatan senjata mereka, dan tidak banyak yang berani mendekati atau menghadapi mereka ketika mereka sedang marah. Tapi banyak lainnya yang cedera, teraniaya, atau tewas di padang. Forlong tumbang tertebas kapak-kapak ketika Ia bertempur sendirian tanpa kuda; Duilin dari Morthond dan saudaranya terinjak-injak sampai mati ketika mereka menyerang mumakil, saat memimpin para pemanah dalam jarak dekat untuk menembak mata hewan-hewan dahsyat itu. Hirluin yang gagah takkan kembali ke Pinnath Gelin, Grimbold pun tidak akan
pulang lagi ke Grimslade, atau Halbarad ke Negeri Utara, sang Penjaga Hutan yang bertangan baja. Tak sedikit yang tewas, termasyhur maupun tak dikenal, kapten maupun serdadu; sebab pertempuran itu sungguh dahsyat dan tak ada dongeng yang menceritakan keseluruhan kisahnya secara lengkap. Lama sesudahnya, seorang penyair di Rohan mengatakan dalam lagunya tentang Kuburan Mundburg:
Kami dengar bunyi terompet di bukit-bukit, pedang pedang berkilauan di kerajaan Selatan. Kuda-kuda jantan melangkah pergi ke negeri Batu bagai angin di pagi hari. Perang berkobar Di sana Theoden gugur, keturunan Thengling yang agung, ke balairung emasnya dan padang padang hijau di Utara ia tak pernah lagi kembali, sang bangsawan penguasa pasukan. Harding dan Guthlaf, Dunhere dan Deorwine, Grimbold yang gagah, Herefara dan Herubrand, Horn dan Fastred, berjuang dan tewas di negeri nun jauh di sana: di Kuburan Mundburg di bawah tanah cokelat mereka terbaring bersama sekutu-sekutu mereka, para bangsawan Gondor Baik Hirluin yang Gagah ke bukit-bukit dekat laut maupun Porlong yang tua ke lembah-lembah berbunga tak pernah, ke Arnach, ke negerinya sendiri kembali dengan kemenangan; begitu juga para pemanah jangkung, Derufin dan Duilin, ke danau-danau gelap, telaga Morthond di bawah bayang-bayang pegunungan. Kematian menjemput penguasa dan rakyat di pagi hari dan di penghujungnya. Kini mereka tidur panjang di bawah rumput Gondor dekat Sungai Besar. Kelabu seperti air mata, perak yang berkilauan, dulu menggulir merah, air yang menggemuruh:
busa diwarnai darah manyala di senja hari; bagai mercu suar gunung-gunung menyala di malam hari; merah embunnya jatuh di Rammas Echor.