Cangkuang,
Objek Wisata Tersembunyi
Seperti
biasa, saat week end bersama keluarga, kami berlibur ke berbagai tempat. Pada kesempatan kali ini kami sebenarnya ingin ke
Pelabuhan Ratu, tapi karena kami melewati jalur neraka (aseek).... jalur yang dilewati truk-truk raksasa pengangkut air
mineral. kemacetan luar biasa yang kami dapatkan ...... Merubah segalanya.
Pagi hari saat berangkat, perasaanku seakan terbang melayang. Tercium aroma pantai dengan hembusan angin yang
semilir, deru ombak yang menawan, dan sunset
yang indah (bayangkan dalam pikiran anda).
Namun semua bayangan indah itu sirna, saat terdengar hiruk pikuk suara klakson mobil yang menggema ditelingga .... terus berputar dan memecahkan kepala.
Seperti
biasa ayahku akan marah jika diberitahu/didikte orang lain tentang rute jalan, beliau merasa dirinya sakti
karena dalam otaknya ada seluruh rute jalur di berbagai belahan dunia (lebay sih, tapi itu benar). Tapi
kenyataannya kita tersesat, kita terlontar ke jalur macet. Ini membuat hati
ayahku kecut (hah?). Karena
kekesalannya mendengar bunyi klakson terus menerus, ayahku pun membanting
stirnya. Memasuki jalan sempit yang gelap gulita, kita tak tau jalan ini menuju kemana.
Dalam kegelapan yang mencekam, setelah sekian banyak melewati tikungan dan tanjakan tajam ... tiba-tiba tercium aroma hutan, terdengar gemercik air dan lolongan suara orang utan. Ternyata jalan kami berujung di sebuah bumi perkemahan yang letaknya sangat terpencil.
Tidak ada perumahan, tidak ada penerangan jalan. Yang terlihat hanya beberapa titik cahaya dikejauhan. Sesekali berkedip dan berayun ... cahaya
yang sangat indah dan menawan. Setelah dekat dengan tempat tersebut kami
melihat beberapa tenda didirikan disana. Terdengar suara anak-anak yang riang
gembira menyanyikan sebuah lagu dengan diiringi petikan gitar. Dengan hati
gembira mereka menyanyikan sebuah lagu diterangi api unggun yang remang-remang.
Karena
sama sekali tidak ada rencana dan persiapan untuk berkemah, akhirnya kami harus menyewa tenda. Penat dan lelah selama perjalanan sirna sudah. Bersama-sama kami asyik mendirikan tenda. Mengumpulkan ranting, rumput dan dedaunan kering ..... untuk dijadikan api unggun.
Hingga
akhirnya .... dibalut hangatnya api unggun, ibuku membuat kejutan. Saat kami sedang
asyik mendengarkan anak-anak yang tengah bernyanyi dengan suara merdu, tiba-tiba saja
ibuku melantunkan suara terbaiknya. Ia melantunkan lagu melati dari jaya giri
dengan nada maju tak gentar (hehehe)
yang sangat sangat sangat....386x fals luar biasa. Adikku yang
polos itu sampai kekamar kecil 8 kali (BAYANGKAN!!!).
Hal itu menjadi bahan tertawaan semua orang.
Oke, ibu berhasil melakukan tugasnya…
Aku bahkan
ingin memuntahkan semua isi perut dalam tubuhku. Aku bahkan sempat bertanya
pada kakakku “mas, kamu mau muntah gak?” dan jawaban kakakku adalah “aku dah muntah
berkali-kali, cuman muntahku,aku makan lagi”.
Jegeeeer... okeh di skip aja bagian itu. Sangat menjijikan. Jangan ditiru dirumah..
Keesokan
paginya aku benar-benar kelaparan. Bayangkan yang sebelumnya aku hanya makan
setengah porsi bakso karena kejadian yang diakibatkan oleh ibuku aku pun
mengeluarkan seluruh isi perutku yang hanya berisi SETENGAH PORSI BAKSO. Huh!!
Emosi… pagi itu kumakan 2 piring nasi goreng yang bewarna muuueeeeraah….
Setelah
mengisi perut kami pergi menuju tempat yang di idam-idamkan sejak lahir (okeh, benerkan?). kami menyusuri hutan,
naik-turun bukit untuk menuju tempat tujuan. Ditengah perjalanan aku menemukan
buah, ingat! Buah yang berbentuk seperti bulu babi, ingat! Bulu babi. Apa
hubungannya coba? Tapi itu bener, ternyata buahnya tuh bentuknya dan rasanya
seperti buah rambutan. Okeh, lanjut. Dengan pemandangan yang benar-benar seperti di
hutan Amazon, disini aromanya yang tercium bukan pantai (yaiyalah,,) aromanya tuh seperti (maaf ya) kentut (loh kok bisa?) yaiyalah orang kakakku buang gas setelah makan ubi .... aduh
duh duh… okeh skip lagi kakakku emang rada-rada jorok gitu
OH MY GOD ,, adikku
si polos yang imut-imut itu dengan tampang memohon ingin berhenti sebentar.
Kalian tau ingin apa? ingin BUANG AIR BESAR. Gak tau kenapa karena kita telah
melewati sungai dengan air sebening Kristal kayaknya membuat adikku memiliki
hasrat ingin mengeluarkan ampas dari tubuhnya. Okeh kita skip.. kenapa
lama-lama jadi ngawur gini ya ceritanya?
Ini dia fotonya, memohon gak kalo
kayak gini mukanya?
Setelah
melakukan pembuangan kami berjalan lagi ya sekitar 800m, kita sampai ke air
terjun yang pertama. Kenapa yang pertama karena disini katanya ada 4 air
terjun. Subhanallah, indahnya luar biasa. Tidak sia-sia kami ke sini dengan
susah payah dan melewati banyak rintangan, kanapa disebut banyak rintangan?
Karena, 1. Suara nyanyian ibuku yang membuat telingaku melayang 2. Aroma segar
kentut kakakku yang membuat hidungku mancung 7cm 3. Kejadian ekskresi adikku
yang mencemarkan air minum yang kita minum selama ini. Tapi Allah benar-benar Maha Pencipta, Ia
menciptakan perpaduan yang benar-benar membuat manusia melayang. Perpaduan
antara air mengalir dengan cipratan-cipratan kecil seperti Kristal yang
berhamburan kesana-sini, susunan batu bagaikan pahatan patung abstrak yang
mengandung unsur seni tinggi, sulur-sulus hijau menjalar bagaikan Kaligrafi
indah dan kicau-kicau burung. SubhanAllah….
indah
gak kalau kayak gini?
Ini
ni jalannya harus menyusuri hutan dulu…
Dan akhirnya kami pun ulang untuk melanjutkan perjalanan meng-asyikkan selanjutnya
untuk infrmasi lebih lanjut tentang keberadaan Cangkuang, nih dia lokasinya:
Lokasi
Aksesbilitas
Berjarak kurang lebih 12 km dari pinggir jalan Raya Sukabumi ke area Wana Wisata Cangkuang. Sedangkan untuk menuju Curug Cangkuang tersebut masih membutuhkan waktu tempuh sekitar 1-2 jam perjalanan dengan berjalan kaki atau sekitar 1 km dari pinggir jalan aspal (dekat pintu masuk gerbang) dengan melewati kawasan hutan pinus.
Dari jalan raya utama Ciawi-Sukabumi belok kanan, masuk setelah pasar CIcurug. Cara lain adalah menanyakan kompleks pembotolan untuk minuman mineral Aqua. Setelah masuk jalur ini ikuti saja jalan aspal yang terbaik hingga ke kawasan wisata. Namun hati-hati karena beberapa tanjakan memiliki gradien di atas 45 derajat. Mobil harus ekstra kerja keras untuk dapat menanjak.
Tiket dan Parkir
Tiket masuk menuju wana wisata ini adalah Rp 5000 per orang. Sebelumnya ada pungutan retribusi desa kurang lebih 1 km sebelum pintu gerbang.
Area berkemah dapat dijumpai disekitar pondok penginapan dan di kawasan hutan lindung dengan empat areal tempat berkemah.
Wisata Lain
Terletak bersebelahan dengan Javana Spa, tepatnya di Desa Cidahu, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat.
Peta dan Koordinat GPS: 6° 43' 21.88" S 106° 45' 45.22" E
Aksesbilitas
Berjarak kurang lebih 12 km dari pinggir jalan Raya Sukabumi ke area Wana Wisata Cangkuang. Sedangkan untuk menuju Curug Cangkuang tersebut masih membutuhkan waktu tempuh sekitar 1-2 jam perjalanan dengan berjalan kaki atau sekitar 1 km dari pinggir jalan aspal (dekat pintu masuk gerbang) dengan melewati kawasan hutan pinus.
Dari jalan raya utama Ciawi-Sukabumi belok kanan, masuk setelah pasar CIcurug. Cara lain adalah menanyakan kompleks pembotolan untuk minuman mineral Aqua. Setelah masuk jalur ini ikuti saja jalan aspal yang terbaik hingga ke kawasan wisata. Namun hati-hati karena beberapa tanjakan memiliki gradien di atas 45 derajat. Mobil harus ekstra kerja keras untuk dapat menanjak.
Tiket dan Parkir
Tiket masuk menuju wana wisata ini adalah Rp 5000 per orang. Sebelumnya ada pungutan retribusi desa kurang lebih 1 km sebelum pintu gerbang.
Fasilitas dan Akomodasi
Beberapa Akomodasi penginapan tersedia di sekitar kawasan curug ini dengan fasilitas yang dimilikinya cukup lengkap. Salah satunya Pondok Cangkuang yang dikelola oleh Perum Perhutanidengan kisaran harga Rp 891.250,- yang termahal untuk wisma tiga kamar pada malam hari Libur Nasional. Sedang yang termurah seharga Rp115.000,- untuk satu kamar pada malam hari biasa.
Beberapa Akomodasi penginapan tersedia di sekitar kawasan curug ini dengan fasilitas yang dimilikinya cukup lengkap. Salah satunya Pondok Cangkuang yang dikelola oleh Perum Perhutanidengan kisaran harga Rp 891.250,- yang termahal untuk wisma tiga kamar pada malam hari Libur Nasional. Sedang yang termurah seharga Rp115.000,- untuk satu kamar pada malam hari biasa.
Area berkemah dapat dijumpai disekitar pondok penginapan dan di kawasan hutan lindung dengan empat areal tempat berkemah.
Wisata Lain
1. Kawah Ratu seluas 30 ha dengan jarak tempuh 3,5 km dari Pondok Cangkuang. Disana terdapat air yang mengalir dengan suhu panas
dan dingin. Selain itu masih ada sumber air panas, menyembur seperti
air mendidih. Begitu juga asap tebal putih keluar dari sela batu-batu
kawah berwarna hitam. 2. Hutan lindung seluas empat kilometer persegi dan hutan
alam yang menyelimuti kaki Gunung Salak.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar